SELAMAT DATANG

Selamat Datang di http://widodoalgani.blogspot.com
Semoga Bermanfaat.
Mohon tinggalkan komentar.

Selasa, 13 September 2011

T A S A W U F

KATA PENGANTAR

Ada kesan sementara pihak bahwa tasawuf bersifat individual, pinggiran dan tidak mempunyai rasa tanggung jawab sosial yang lebih riil. Pemahaman atau kesan seperti ini adalah pemahaman klasik. Meski demikian pemahaman seperti ini tidak bisa disalahkah begitu saja, karena hal ini ditimbulkan dari pemahaman ulama klasik bahwa yang namanya tasawuf itu mengisolasikan diri dari keramaian dunia, termasuk didalamnya dengan harta dan pangkat atau jabatan.
Pemahaman ulama klasik ini di dorong oleh pemahaman secara sepihak terhadap ayat al Qur'an dan hadis Nabi SAW yang bernada mendeskriditkan terhadap dunia, tanpa mau melihat ayat maupun hadis yang bernada positif terhadapnya. Pemahaman ini tidak bisa disalahkan, sebab pemahaman ini sejalan dengan situasi dan kondisi yang ada pada waktu itu, karena perilaku politik dan ekonomi penguasa yang pada waktu itu, dan orang kaya waktu itu terjadi sedemikian rupa, sehingga menuntut sebagian sufi untuk melakukan penarikan diri dari keramaian duniawi.
Pemahaman seperti itu tentunya tidak sesuai lagi dengan situasi dan kondisi sekarang karena pada masa modern seperti sekarang ini tasawuf dihadapkan pada tanggung jawab sosial dalam kehidupan nyata. Tanggungjawabnya yang nyata itu antara lain bersifat spiritual, psikologis, politik, moral, intelektual, ekonomi dan sebagainya. Tanggungjawab spiritual, tasawuf hendaknya bisa memberikan kesejukan kepada masyakat terutama pada masa kritis. Dalam aspek psikologis, tasawuf hendaknya memberikan solusi bagi problema penyakit modern seperti stress, depresi, dan sebagainya. Dalam aspek politik, tasawuf dituntut untuk memecahkan ketidakadilan dan pemihakan terhadap kaum dhuafa.
Demikian pula dalam bidang ekonomi hendaknya bisa lebih meratakan sembilan bahan pokok kepada masyarakat luas. Dalam bidang moral, tasawuf hendaknya bisa menanggulangi kenakalan remaja dan kaum tua yang sangat menyedihkan, dan dalam aspek intelektual hendaknya tasawuf melakukan renungan yang bersifat intuitif, sebagai alternatif pemecahan masalah, di samping rasionalisme dan empirisme.
Dengan demikian, tasawuf dituntut lebih bersifat pragmatic, empirik dan fungsional, artinya tasawuf dituntut lebih menyentuh kebutuhan hidup riil manusia modern, lebih mampu memecahkan problema yang bersifat pengalaman,  dan mempunyai peran riil dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, tasawuf akan menjadi tumpuan harapan bagi seluruh lapisan masyarakat.

T A S A W U F

A.     Pengertian Tasawuf

Tasawuf sebagai salah satu tipe mistisme, dalam bahasa Inggris disebut Sufisme. Kata tasawuf mulai dipercakapkan sebagai satu istilah sekitar akhir abad dua hijriah yang dikaitkan dengan salah satu jenis pakaian kasar yang disebut shuff atau wool kasar. Kain sejenis itu sangat digemari oleh para zahid sehingga menjadi simbol kesederhanaan pada masa itu. menghubungkan sufi atau tasawuf dengan shuff, nampaknya cukup beralasan. Sebab, antara keduanya ada hubungan korelasi, yakni antara jenis pakaian yang sederhana dengan kebersahajaan hidup para sufi. Kebiasaan memakai wool kasar juga sudah merupakan karakteristik kehidupan orang-orang soleh sebelum datangnya Islam, sehingga mereka dijuluki dengan sufi, orang-orang yang memakai shuff.
Ada pula pendapat yang mengatakan, bahwa kata tasawuf berasal dari bahasa Yunani, yakni sophos yang berarti hikmah atau keutamaan. Menurut pendapat ini, para sufi adalah pencari hikmah atau ilmu hakikat. Pendapat lain memperkirakan kata sufi berasal dari shafa atau shafwun yang berarti bening, karena hati sufi yang selalu bening. Sementara lainnya mengatakan kata sufi berasal dari shaff atau barisan, karena pada sufi selalu berada pada barisan terdepan dalam mencari keridhoan Ilahi. Memperhatikan beberapa pendapat diatas, nampaknya sufi itu adalah gelaran semata yang tidak terdapat dalam akar kata bahasa Arab, merupakan satu panggilan kehormatan yang semisal dengan sebutan sahabat.
Kalau dalam pencarian akar kata tasawuf sebagai upaya awal untuk mendefinisian tasawuf, ternyata sulit untuk menarik satu kesimpulan yang tepat, kesulitan serupa ternyata dijumpai pula pada pendefinisian tasawuf sebagaimana halnya dalam mendefinisikan filsafat atau mistisme. Kesulitan itu nampaknya berpangkal pada esensi tasawuf sebagai pengalaman rohaniah yang hampir tidak mungkin dijelaskan secara tepat melalui bahasa lisan. Masing-masing orang yang mengalaminya mempunyai penghayatan yang berbeda dari orang lain sehingga pengungkapannya juga melalui cara yang berbeda. Maka muncullah definisi tasawuf sebanya orang yang mencoba menginformasikan pengalaman rohaniahnya itu. disamping faktor tadi juga karena ciri tasawuf yang intuitif subjektif, dipersulit lagi karena pertumbuhan dan kesejarahan tasawuf yang melalui berbagai segmen dan dalam kawasan kultur yang bervariasi.
Namun, dari serangkaian definisi yang ditawarkan para ahli ada satu asas yang disepakati, yakni tasawuf adalah moralitas-moralitas yang berasaskan Islam. Artinya, bahwa pada prinsipnya tasawuf bermakna moral dan semangat Islam, karena seluruh ajarah Islam dari berbagai aspeknya adalah prinsip moral.
Dari definisi yang banyak jumlahnya itu, Ibrahim Basuni mengelompokkan kepada tiga kategori, yaitu al-bidayat, al-mujahadat dan al-madzaqot. Dia maksudkan dengan al-bidayat, bahwa prinsip awal tumbuhnya tasawuf adalah sebagai manifestasi dari kesadaran spiritual manusia tentang dirinya sebagai makhluk Tuhan. Kesadaran itu mendorong para sufi untuk memusatkan perhatiannya untuk beribadah kepada Khaliqnya yang dibarengi dengan kehidupan zuhud, dengan tujuan pertama sebagai pembinaan moral
Definisi tasawuf yang dikategorikan al-mujahadat adalah seperangkat amaliah dan latihan yang keras dengan satu tujuan, yaitu berjumpa dengan Allah. Kalau definisi pertama al-bidayat didasarkan kepada kesadaran manusia sebagai hamba Allah, yang kedua dikaitkan dengan upaya mencari hubungan langsung dengan Allah, maka yang ketiga al-madzagot diartikan sebagai apa dan bagaimana yang dialami dan dirasakan seseorang di hadirat Allah, apakah ia melihat Tuhan, atau merasakan kehadiran Tuhan dalam hatinya dan atau ia merasa bersatu dengan Tuhan.
Berdasarkan kajian terhadap tasawuf dari semua alirannya, ternyata tasawuf memiliki lima ciri khas atau karakteristik :
1.      Tasawuf dari semua alirannya memiliki obsesi kedamaian dan kebaagiaan spiritual yang abadi.
2.      Tasawuf merupakan pengetahuan langsung yang diperoleh melalui tanggapan intuisi.
3.      Pada setiap perjalanan sufi berangkat dari dan untuk peningkatan kualitas moral yakni pemurnian jiwa melalui serial latihan yang keras dan berkelanjutan.
4.      Peleburan diri pada kehendak Tuhan melalui fana, baik dalam pengertian simbolis atributis atau pengertian substansial. Artinya, peleburan diri dengan sifat-sifat Tuhan dan atau penyatuan diri dengan-Nya dalam realitas yang tunggal.
5.      Penggunaan kata simbolis dalam pengungkapan pengalaman yang disebut dengan Sathohat.

B.     Perkembangan Tasawuf

Term tasawuf dikenal secara luas di kawasan Islam sejak penghujung abad dua Hijriah, sebagai perkembangan lanjut dari kesalehan asketis atau pada zahid yang mengelompok di serambi Masjid Madinah. Dalam perjalanan kehidupan kelompok ini lebih mengkhususkan diri dengan mengabaikan kenikmatan duniawi. Pola hidup kesalehan yang demikian merupakan awal pertumbuhan tasawuf yang kemudian berkembangan dengan pesatnya. Fase ini dapat disebut sebagai fase asketisme dan merupakan fase pertama perkembangan tasawuf, yang ditandai dengan munculnya individu-individu yang lebih mengejar kehidupan akhirat sehingga perhatiannya terpusat untuk beribadah dan mengabaikan keaksikan duniawi. Fase asketisme ini setidaknya sampai pada abad dua hijriah dan memasuki abad tiga hijriah sudah terlihat adanya peralihan konkrit dari asketisme Islam ke sufisme. Fase ini dapat disebut sebagia fase kedua, yang ditandai oleh antara lain peralihan sebutan zahid menjadi sufi. Di sisi lain, pada kurun waktu ini percakapan para zahid sudah sampai pada persoalan apa itu jiwa yang bersih, apa itu moral dan bagaimana metode pembinaannya dan perbincangan tentang masalah teoritis lainnya. Tindak lanjut dari perbincangan ini, maka bermunculanlah berbagai teori tentang jenjang-jenjang yang harus ditempu oleh seorang sufi (al-maqomat) serta ciri-ciri yang dimiliki seorang sufi pada tingkat tertentu (al-hal). Demikian juga pada periode ini sudah berkembangan pembahasan tentang al-ma’rifat serta perangkat metodenya sampai pada tingkat fana’ dan ittihad. Bersamaan dengan itu, tampil pula para penulis tasawuf, seperti al-Muhasibi, al-Kharraj dan al-Junaid dan lainnya. Fase ini ditandai dengan muncul dan berkembangnya ilmu baru dalam khazanah budaya Islam, yakni ilmu tasawuf yang tadinya hanya berupa pengetahuan praktis atau semacam langgam beragamaan.
Kepesatan perkembangan tasawuf sebagai salah satu kultur keislaman, nampaknya memperoleh infus atau motivasi dari tiga faktor, infus ini kemudian memberikan gambaran tentang tipe gerakan yang muncul. Pertama, adalah karena corak kehidupan kepelesiran yang diperagakan terutama para pembesar negeri dan para hartawan. Kedua, timbulnya sikap apatis sebagai reaksi maksimal kepada radikalisme kaum Khawarij dan polarisasi politik yang ditimbulkannya. Faktor ketiga, nampaknya adalah karena corak kodifikasi hukum Islam dan perumusan ilmu kalam yang rasional sehingga kurang bermotivasi etikal yang menyebabkan kehilangan moralitasnya.
Sementara itu dalam abad tiga, Abu Yazid al-Bisthomi melangkah lebih maju dengan doktrin al-ittihad melalui al-fana, yakni beralihnya sifat kemanusiaan seseorang ke dalam sifat ke-Ilahian sehingga terjadi penyatuan manusia denganTuhan.
Sejak munculnya doktrin fana dan ittihad, terjadilah pergeseran tujuan akhir dari kehidupan spiritual. Kalau mulanya tasawuf bertujuan hanya untuk mencintai dan selalu dekat dengan-Nya sehingga dapat berkomunikasi langsung, tujuan itu telah menaik lagi pada tingkat penyatuan diri dengan Tuhan. Konsep ini berangkat dari paradigma, bahwa manusia secara biologis adalah jenis makhluk yang mampu melakukan transformasi atau transendensi melalui mi’raj spiritual ke alam ilahiyat.
Pemahaman terhadap aliran paham ini menyebabkan timbulnya ketegangan antara kaum orthodoks dengan kaum sufi berpaham ittihad di pihak lain. Al-Ghazali pada abad lima Hijriah mencoba mengadakan pendekatan dengan penegasan bahwa ucapan yang berasal dari orang arif yang sedang dalam kondisi terkesima. Sebab dalam kenyataannya, kata al-Ghazali, setelah mereka sadar mereka mengakui pula, bahwa kesatuan dengan Tuhan itu bukanlah kesatuan hakiki, tetapi kesatuan simbolistik.
Pendekatan yang dilakukan oleh al-Ghazali, nampaknya bagi satu pihak memberikan jaminan untuk mempertahankan prinsip, bahwa Allah dan alam ciptaan-Nya adalah dua hal yang berbeda sehingga satu sama lain tidak mungkin bersatu. Dipihak lain memberikan kelonggaran pula bagi para sufi untuk memasuki pengalaman-pengalaman kesufian puncak itu tanpa kehawatiran dituduh kafir. Gambaran ini menunjukkan  tasawuf sebagai ilmu telah sampai ke fase kematangannya atau memasuki fase keempat, yang ditandai dengan timbulnya dua aliran tasawuf, yaitu tasawuf sunni dan tasawuf filsafati.
Dalam beberapa tahun terakhir ini ada kecenderungan baru bahwa di sebagian lingkungann umat Islam Indonesia tumbuh minat yang makin besar terhadap tasawuf. Minat terhadap tasawuf itu baik yang masih terbatas pada pemikiran, maupun langsung mempraktikkan “jalan sufi atau jalan tasawuf” dan praktik-praktik tarekat yang memang sudah lama mengakar di tanah air.
Berkembangnya peminat atau pengikut jalan tasawuf tersebut dapat dilihat dari antara lain larisnya buku-buku tasawuf Islam, munculnya pemikiran-pemikiran yang bersifat spiritualistik, tumbuhnya kelompok-kelompok pengajian tarekat, makin meningkatnya kegiatan-kegiatan lembaga-lembaga dan pondok-pondok pesantren tarekat, sampai pada praktik-praktik keagamaan yang bersifat mistik. Yang termasuk menyolok akhir-akhir ini adalah kegiatan sekelompok muslim yang berkeliling dari satu masjid ke masjid lain untuk  mempraktikkan cara hidup Rasulullah seperti dalam hal makan dan menjalin persaudaraan yang dalam praktik umat Islam pada umumnya dianggap kurang begitu lazim.
Yang cukup menarik adalah, peminat atau pengikut tasawuf serta tarekat tersebut berkembang pesat di kota-kota besar dan kampus-kampus, seakan mewakili profil masyarakat muslim perkotaan dari kelas menengah ke atas dan kaum terpelajar di tengah zaman yang tengah berubah dewasa ini.
Sejak saat itulah tasawuf yang bermula dari gerakan hidup zuhud berkembang menjadi aliran pemikiran dan filsafat tersendiri dalam khazanah pemikiran dan praktik hidup keagamaan umat Islam dengan berbagai macam kontroversinya. Di antara kontroversi yang dalam batas tertentu sering dipandang menyimpang dari syari’at al-Qur’an dan as-Sunnah adalah kecenderungan tasawuf yang  melahirkan sikap dan pemikiran apriori yang oleh Ibnu Taimiyah dikategorikan sebagai “tasawwuf al-malahidah” (tasawuf ahteis) antara lain ide tentang tiga oknum ketuhanan (at-tatslis), hulul (penitisan) dan inkarnasi (tanasukh), “wihdah al-wujud” (penyatuan diri dengan Tuhan), al-muwahhadah (Pantheisme). Termasuk dalam wilayah kontroversi tasawuf adalah ide dan sikap hidup kezuhudan yang secara apriori cenderung anti dunia dan orientasi serba keakhiratan (ascestis), mementingkan kesalehan pribadi semata, melepaskan diri dari beban syari’at dalam melakukan ibadah, dan praktik-praktik tasawuf yang cenderung melakukan bid’ah dan khurafat.
Tetapi harus diakui kelebihan dan sekaligus kontribusi terpenting dari tasawuf terhadap khasanah pemikiran dan praktik keagamaan umat Islam adalah tekanannya pada usaha yang sungguh-sungguh dalam melakukan taqarrub ilallah (mendekatkan diri kepada Allah lewat berbagai bentuk zikrullah, penyucian jiwa dan hati melalui berbagai latihan kejiwaan (al-mumarasah) dan kontemplasi (al-kasyf), menghayati ajaran sampai ke tingkat kedalamannya (al-makrifat), sikap al zuhud wal al-wara, melakukan amalan kebajikan yang murni (khalisah) dan terpuji (mahmudhah), dan berbagai sikap laku yang menunjukkan keluruhan spiritual yang memang diajarkan dalam Islam dan memperoleh contoh teladan Nabi seperti terkandung dalam konsep ajaran Ibadah dan akhlak.
Persoalannya, kenapa sebagian umat Islam dewasa ini mengikuti jalan tasawuf? Dalam hal ini tampaknya ada dua faktor utama yang mendorong pilihan sebagian umat pada tasawuf. Pertama, adalah faktor internal. Yaitu orientasi yang terlalu formal verbal dan semata-mata menyentuh kulit luar dari pelaksanan ajaran Islam melalui pendekatan fiqih. 
Ada faktor internal lain yang ikut mendorong berkembangnya minat terhadap tasawuf dan jalan sufi. Yakni, menurut sementara pendapat, orientasi yang bersifat rasional dalam memahami dan mempraktikkan ajaran Islam di kalangan umat seperti yang banyak diperkenankan oleh gerakan-gerakan Islam pembaharu. Akibatnya timbul proses pengeringan aspek spiritual dan mistikal dalam khazanah pemikiran dan pengamalan Islam.
Faktor kedua, adalah faktor eksternal. Diakui bahwa kehidupan modern di samping melahirkan berbagai lompotan kemajuan khususnya dalam perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan daya eksplorasi manusia dalam mengolah alam dan kehidupannya, juga melahirkan sisi lain yang dirasakan sebagai menimbulkan krisis dalam kehidupan manusia itu sendiri. Persoalan yang mendasar bagi umat Islam adalah, adakah jalan tasawuf semacam itu merupakan pilihan yang cukup tuntas baik dari segi totalitas ajaran Islam maupun fungsi kehidupan setiap umat dalam mengemban misi hidup dunia dan akhirat dalam keseluruhan aspeknya sebagaimana Islam mengajarkannya demikian?

C.     Tujuan Tasawuf

Secara umum, tujuan terpenting dari sufi adalah agar berada sedekat mungkin dengan Allah. Akan tetapi apabila diperhatikan karakteristik tasawuf secara umum, terlihat adanya tiga sasaran antara dari tasawuf, yaitu :
  1. Pembinaan aspek moral yang meliputi mewujudkan kestabilan jiwa yang berkeseimbangan, penguasaan dan pengendalian hawa nafsu sehingga manusia konsisten dan komitmen hanya kepada keluhuran moral.
  2. Tasawuf bertujuan untuk ma’rifatullah melalui penyingkapan langsung dengan seperangkat ketentuan khusus yang diformulasikan secara sistematis. (metode al-kasyf al-hijab)
  3. Tasawuf yang bertujuan untuk membahas bagaimana sistem pengenalan dan pendekatan diri kepada Allah secara mistis filosofis, pengkajian garis hubungan antara Tuhan dengan makhluk, terutama hubungan manusia dengan Tuhan dan apa arti dekat dengan Tuhan.

D.    Ajaran Tasawuf

Ada tiga permasalahan besar yang dibicarakan oleh semua agama di dunia ini. Pertama tentang Tuhan, kedua tentang manusia dan ketiga tentang dunia. Masing-masing agama mempunyai konsep atau ajaran sendiri-sendiri tentang ketiga hal tersebut. Sementara Islam, dan lebih spesifik lagi tasawuf, mempunyai konsep tersendiri tentang tiga hal tersebut.
Dalam ajaran Islam, Tuhan memang dekat sekali dengan manusia. Dekatnya Tuhan kepada manusia dijelaskan oleh al-Qur’an sendiri, “Jika hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka Aku sangat dekat dan aku mengabulkan seruan orang yang  memanggil jika Aku dipanggil.”
(Qs. Al-Baqarah: 186)
Kaum sufi mengartikan “doa” disini bukan seperti lazimnya pengertian doa, tetapi berseru agar Tuhan mengabulkan seruannya untuk melihat Tuhan dan dekat kepada-Nya. Dia berseru agar Tuhan membuka hijab dan menampakkan diri-Nya kepada yang berseru. Tentang dekatnya Tuhan, digambarkan oleh ayat berikut ini, “Timur dan barat kepunyaan Tuhan, maka kemana saja engkau berpaling di situ ada wajah Tuhan”. (Qs. Al-Baqarah: 115). Ayat ini berarti bahwa di mana saja Tuhan dapat dijumpai.
Untuk mencari Tuhan, seorang sufi tak perlu pergi jauh. Cukup ia masuk ke dalam dirinya, dan Tuhan yang dicarinya akan ia jumpai dalam dirinya sendiri. Pemahaman ini didasarkan pada pemahaman maksud dari Firman Allah berikut ini, “Bukanlah kamu yang membunuh mereka, tapi Allah-lah yang membunuh mereka, dan bukanlah engkau yang melempar ketika engkau melempar, tapi Allah-lah yang melemparkannya.” (Qs. Al-Anfal: 17)
Sufi melihat persatuan manusia dengan Tuhan. Perbuatan manusia adalah perbuatan Tuhan. Bahkan Tuhan dekat bukan hanya kepada manusia, tapi juga kepada makhluk lain. Dari sini kemudian muncullah paham bahwa Tuhan dan makhluk dapat bersatu (ittihad). Seorang sufi yang khusyu’ dan banyak beribadat akan merasakan kedekatan Tuhan, lalu melihat Tuhan dengan mata hatinya, dan akhirnya mengalami persatuan ruh dengan ruh Tuhan, dan inilah hakikat tasawuf.
Jalan yang ditempuh oleh seorang sufi untuk sampai ke tingkat dapat melihat Tuhan dengan mata hatinya dan akhirnya bersatu dengan Tuhan demikian panjang dan penuh duri. Karena itu hanya sedikit sekali orang yang bisa sampai ke puncak tujuan tasawuf tersebut. Jalan inilah yang dalam istilah tasawuf di sebut thariqah. Dalam hal ini yang dimaksud adalah jalan menuju kepada Tuhan untuk mendapatkan ridha-Nya dengan mentaati ajaran-ajaran-Nya.
Jalan pendekatan diri kepada Tuhan, yang intinya adalah penyucian diri, oleh kaum sufi dibagi ke dalam stasiun-stasiun yang dalam bahasa Arab disebut maqamat, tempat seorang sufi menunggu sambil berusaha keras untuk membersihkan diri agar dapat melanjutkan perjalanan ke stasiun berikutnya.
Di samping maqam, dalam literatur sufi terdapat istilah ahwal, yaitu keadaan mental yang diberikan kepada seseorang seperti perasaan senang, sedih takut dan sebagainya. Ahwal semata-mata berkat rahmat dan anugrah dari Tuhan, bersifat sementara, datang dan pergi kepada seorang sufi dalam perjalanannya mencari Tuhan.
Proses taqarrub Ilahiyah bagi calon sufi, pada awal mulanya masih dipengaruhi oleh rasa takut akan dosa-dosa yang dilakukannya. Rasa takut itu kemudian berubah menjadi rasa was-was, apakah taubatnya diterima Tuhan sehingga ia dapat meneruskan perjalanannya untuk mendekat kepada Tuhan, atau sebaliknya. Lambat laun ia merasakan bahwa Tuhan bukanlah Dzat yang mudah murka, tetapi Dzat Yang Sayang dan Kasih kepada hamba-Nya. Rasa takut hilang dan sebagai gantinya timbullah rasa cinta kepada Tuhan. Pada stasiun ridha, rasa cinta kepada Tuhan bergelora dalam hatinya. Maka ia pun sampai ke stasiun mahabbah (cinta Ilahi), dan akhirnya mengalami persatuan ruh dengan ruh Tuhan, dan inilah hakikat tasawuf.

E.     Penutup

Tasawuf merupakan salah satu bagian dari ajaran Islam yang secara keilmuan lahir di kemudian hari melalui proses yang panjang dengan dinamikanya sendiri. Kelahirannya sebagai perwujudan dari pemahaman al Qur'an dan al Hadis sesuai dengan konteks zamannya.
Memasuki abad ke 21 ini, ketika masyarakat Indonesia khususnya dan masyarakat dunia memasuki era baru dalam kehidupan modern-industrial yang serba rasionalistik dan organistik, di mana masyarakat yang tidak kuat dengan keindahan dunia akan menjadi loba terhadap dunia, sementara masyarakat yang takut dengan kehidupan akherat akan selalu mendekatkan dirinya kepada Allah. Salah satu jalan yang saat ini berkembang baik di dunia Indonesia maupun dunia yaitu tasawuf yang menawarkan spiritualitas Islam yang lebih tahan uji menghadapi arus zaman. Tasawuf menitikberatkan pada kecintaannya kepada akherat lebih bersifat  zuhud dalam menghadapi arus zaman sekarang.
Di mana terdapat tiga ajaran pokok tasawuf, yakni tentang Tuhan, manusia dan dunia. Ketiga-tiganya mempunyai hubungan sistemik. Tuhan itu ruhani dan maha suci. Oleh karena itu yang dapat mendekati dan mengenal_nya ialah ruh (intuisi) manusia yang suci dari hal-hal yang mengotorinya, yaitu dunia. Dengan demikian diperlukan upaya pembersihan diri dengan mujahadan dan riyadhah, melalui tahapan-tahapan tertentu yaitu maqamat.
Secara esensial tasawuf mempunyai ajaran sosial, seperti al-Futuwwah (sikap kepahlawanan) dan al_itsar (sikap mementingkan orang lain). Sikap penarikan diri dari keramaian dunia pada awal pembentukan tasawuf bisa diberi makna sebagai sikap kepedulian sosial dan merupakan protes secara pasif terhadap ketimpangan sosial.
Demikianlah pembahasan tentang tasawuf, apabila yang telah penulis kemukakan di atas terdapat kesalahan-kesalahan, penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya. Mudah-mudahan ini dapat berguna bagi kita semua.

Daftar Pustaka

Al Qur'an dan Terjemahnya. Depag RI. Jakarta. 1995.

Nasution, Harun, 1987. Islam ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jilid 2. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta.

Simuh, 1989. Perkembangan Tasawuf dan Pemurniannya, Jakarta.

Siregar, H. A. Rivay, 1999, Tasawuf  Dari Sufisme Klasik ke Neo-Sufisme, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Syukur, Amin, 1999. Menggugat Tasawuf, Pustaka Pelajar. Yogyakarta.

Klik aku di sini:


Sabtu, 10 September 2011

ANTARA TAKHAYUL DENGAN PRAKTEK KEAGAMAAN


ANTARA TAKHAYUL DENGAN PRAKTEK KEAGAMAAN


Sadar atau tidak, banyak hal yang dilakukan orang berkaitan dengan praktek atau kepercayaan kepada takhayul, beberapa diantaranya berhubungan erat dengan dewa-dewa atau roh. Sebagai contoh, apa kalian tahu bahwa perayaan hari lahir berasal dari astrologi, yang menganggap tanggal kelahiran yang tepat itu penting? Bagaimana dengan kue ulang tahun? Saya mencari tahu tentang ini, rupanya ini berkaitan dengan Artemis, dewi Yunani, yang hari lahirnya dirayakan dengan kue madu berbentuk bulan yang diberi lilin-lilin diatasnya. Atau apakah kalian tahu kalau memakai pakaian hitam pada saat pemakaman mulanya dipercaya sebagai tipu muslihat untuk menghindari perhatian roh-roh jahat yang dikatakan sedang mengintai pada kesempatan seperti itu? Selain itu, beberapa orang Afrika berkulit hitam sengaja mewarnai diri mereka dengan warna putih, dan di beberapa negara, orang yang berkabung memakai pakaian dengan warna yang mencolok agar roh-roh tidak mengenali mereka.
Selain kebiasaan-kebiasaan yang populer ini, orang dimana-mana memiliki takhayul dan rasa takut. Dibarat, memecahkan sebuah cermin, melihat seekor kucing hitam, berjalan dibawah tangga, dan bergantung tempat tinggal kalian, tanggal 13 yang jatuh pada hari selasa atau jumat, semuanya dianggap pertanda buruk. Ditimur, orang-orang jepang memakai kimono dengan sisi kiri dilipat ke sisi kanan, karena cara sebaliknya dikenakan kepada jenazah. Rumah-rumah yang dibangun tanpa jendela atau pintu yang menghadap timur laut agar para hantu yang dikatakan datang dari arah itu tidak bisa menemukan jalan masuk.
Namun, kepercayaan kepada roh-roh dan para dewa tidak terbatas kepada takhayul dan kebiasaan-kebiasaan yang kelihatanya tidak merugikan. Memang, pada mulanya kita mungkin berpikir ini dilakukan oleh orang-orang yang tinggal didaerah pedalaman dan pegunungan yang biasa meminta bantuan para cenayang atau dukun apabila sakit atau memiliki kesusahan. Namun, orang-orang dikota besar maupun kecil juga pergi ke para astrolog atau peramal seperti Mama Lauren ataupun juga kepada paranormal seperti Ki Joko Bodo untuk mengetahui masa depan atau mendapatkan bantuan dalam mengambil keputusan penting. Beberapa orang, walau dikatakan memiliki agama, teap melakukan praktek-praktek demikian dengan antusias. Apakah kalian juga demikian?
Sebenarnya, apa sumber atau asal-usul dari semua praktek dan takhayul ini? Apakah semuanya hanya sekedar pendekatan yang berbeda kepada Tuhan?
Mungkin, kalian juga yang harus menjawabnya.
Apakah kalian tahu kehidupan orang pada masa awal? Kehidupan orang masa awal kelihatanya penuh dengan misteri. Banyak peristiwa yang tidak dapat merekapahami dan membingungkan. Hanya sebagai contoh, mereka tidak dapatmemahami mengapa seseorang yang benar-benar sehat tiba-tiba jatuh sakit, atau mengapa langit tidak menurunkan hujan pada musimnya. Bahkan bayangan, detak jantung, dan nafas diri sendiri merupakan sebuah misteri.
Nah, oleh karena itu, wajar apabila manusia menghubungkan praktek keagamaan dengan takhayul. Namun, karena kurang bimbingan dan pengertian yang tepat, dunia segera dipenuhi dengan roh-roh atau hantu-hantu. Sebagai contoh yang dekat dengan kita, orang Jawa, Sunda, atau mungkin seluruh Nusantara masih percaya bahwa gunung, pohon, sungai, batu yang berbentuk aneh, dan sejumlah benda lainnya adalah keramat.
Walaupun dewasa ini ada yang mungkin menganggap semua kepercayaan ini sebagai takhayul, tetap banyak yang melakukan kegiatan atau ritual seperti itu.
Nah, sekarang hanya kita yang bisa memutuskan, mempercayai gagasan-gagasan tersebut, atau menganggap semua itu hanya takhayul? Sebenarnya, masih banyak lagi yang ingin saya sampaikan, tapi saya sadar bahwa tangan saya mulai pegal. Hehehehe.


Klik aku di sini:

Selasa, 06 September 2011

HAKIKAT JAHILIYAH

HAKIKAT JAHILIYAH

Jahiliyah (bahasa Arab: جاهلية, jahiliyyah) adalah konsep dalam agama Islam yang berarti "ketidaktahuan akan petunjuk ilahi" atau "kondisi ketidaktahuan akan petunjuk dari Tuhan".[1] Keadaan tersebut merujuk pada situasi bangsa Arab sendiri, yaitu pada masa masyarakat Arab pra-Islam sebelum diturunkannya al-Qur'an. Pengertian khusus kata jahiliyah ialah keadaan seseorang yang tidak memperoleh bimbingan dari Islam dan al-Qur'an.
Masa jahiliyah seperti yang pernah terjadi di jazirah Arab belasan abad yang silam memang telah berlalu, namun demikian pada dasarnya pemikiran akan selalu ada dan setiap kaum itu ada pewarisnya. Maka meskipun Abu Jahal dan Abu Lahab serta antek-anteknya telah tiada, akan tetapi tidak menutup kemungkinan gaya dan karakter mereka masih melekat pada sebagian ummat yang hidup di masa ini.
Syaikh Muhammad at-Tamimi, seorang imam dakwah tauhid di masanya, telah menyebutkan lebih dari seratus karakteristik jahiliyah yang kita semua diperintahkan untuk menyelisihinya. Karena keterbatasn tempat maka dalam kesempatan ini hanya kami sebutkan sebagiannya saja. Di antara yang terpenting untuk diketahui adalah sebagai berikut:
1.      Syirik Dalam Beribadah
Orang-orang jahiliyah melakukan syirik atau penyekutuan di dalam beribadah dan berdoa kepada Allah subhanahu wata'ala. Di samping memohon kepada Allah subhanahu wata'ala mereka juga memohon kepada orang orang shaleh yang telah mati, mereka meminta syafaatnya di sisi Allah dengan persangkaan bahwa Allah dan orang-orang shalih tersebut menyintai hal itu. Allah subhanahu wata'ala telah berfirman, artinya,
"Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak pula kemanfa'atan, dan mereka berkata, "Mereka itu adalah pemberi syafa'at kepada kami di sisi Allah". (QS.Yunus:18).
Di dalam ayat lain disebutkan, artinya, "Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata), "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya". (QS.az-Zumar:3)
Kemusyrikan semacam ini merupakan masalah paling besar yang diingkari oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, maka beliau mengajarkan keikhlasan (pemurnian/tauhid) dalam beribadah hanya kepada Allah subhanahu wata'ala semata. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memberitahukan bahwa agama yang beliau bawa adalah agama seluruh rasul, dan Allah subhanahu wata'ala tidak akan menerima kecuali orang yang ikhlas. Juga menjelaskan bahwa siapa saja yang melakukan kesyirikan dengan dasar istihsan (menganggap baik) maka Allah subhanahu wata'ala mengharamkan baginya surga dan tempat kembalinya adalah neraka.
Masalah inilah yang menjadi garis pemisah antara seorang muslim dengan seorang kafir, dan dengan sebab itulah terjadi perseteruan antara tauhid dengan syirik. Dan untuk inilah (memerangi kesyirikan) Allah subhanahu wata'ala mensyari'atkan jihad, sebagaimana difirmankan, artinya,
"Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah." (QS. al-Anfal:39)
2.      Bercerai Berai Dalam Agama
Di antara sifat jahiliyah adalah bercerai berai (tafarruq) dalam agama, sebagaimana difirmankan Allah subhanahu wata'ala, artinya, "Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan.Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka." (QS. 30:31-32)
Demikian pula dalam urusan dunia, mereka juga berpecah belah, dan masing-masing memandang diri mereka yang paling benar. Maka datanglah Islam menyeru untuk bersatu dalam agama, sebagaimana difirmankan oleh Allah subhanahu wata'ala, artinya, "Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu, "Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya." (QS. Asy-Syura:13)
Kita dilarang untuk meniru-niru mereka dan dilarang berpecah belah. Allah subhanahu wata'ala berfirman, artinya, "Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat." (QS.Ali Imran:105)  Dalam ayat sebelumnya disebutkan, artinya, "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai." (QS. Ali Imran:103)
3.      Tidak Menaati Ulil Amri
Menurut mereka, menyelisihi ulul amri (pemegang urusan ummat, red) dan tidak menaati mereka merupakan keutamaan dan kemuliaan. Sedangkan mendengarkan dan taat kepada waliyul amri adalah kerendahan dan kehinaan. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan untuk mendengarkan dan taat kepada ulul amri,bersabar atas kezhaliman penguasa dan memberikan nasehat kepada mereka. Beliau sangat menekankan itu, menjelaskannya serta mengulang-ulanginya.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, artinya,
"Sesungguhnya Allah ridha pada kalian dalam tiga hal; "Jika kalian beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan dengan sesuatu apapun; Jika kalian berpegang teguh dengan tali Allah dan tidak berpecah belah; dan jika kalian saling memberi nasehat kepada orang yang diserahi oleh Allah untuk memegang urusan kalian." (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Berbagai problem yang dihadapi manusia baik dalam masalah agama ataupun keduniaan tidak lain disebabkan karena adanya masalah dalam tiga hal ini, atau salah satu dari ketiganya.
4.      Membangun Agama di Atas Taqlid
Bahwa agama orang jahiliyah sebagian besarnya dibangun di atas landasan taqlid (ikut-ikutan), dan ini merupakan kaidah terbesar seluruh orang kafir baik yang dulu maupun di masa kini, sebagaimana difirmankan Allah subhanahu wata'ala, artinya,  "Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata, "Sesungguh nya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguh nya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka". (QS.az-Zukhruf:23)
Dalam ayat lainnya disebutkan, artinya,  "Dan apabila dikatakan kepada mereka, "Ikutilah apa yang diturunkan Allah". Mereka menjawab, "(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakan nya".Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)?" (QS. 31:21)
Oleh karena itu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam datang dengan menyerukan firman Allah subhanahu wata'ala, artinya, "Katakanlah, "Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu fikirkan (tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila sedikitpun pada kawanmu itu." (QS.Saba':46)
Juga firman Allah subhanahu wata'ala, artinya, "Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (dari padanya)." (QS. Al-A'raf:3)
5.      Bangga dengan Banyaknya Pengikut
Di antara prinsip yang dipegang olah kaum jahiliyah adalah merasa bangga dan terlena dengan banyaknya jumlah mereka, dan mereka menjadikanya sebagai hujjah atas kebenaran sesuatu. Dan sebaliknya mereka berhujjah bahwa yang batil adalah segala sesuatu yang asing bagi mereka dan sedikit pengikutnya.
6.      Mengukur Kebatilan dengan Orang Lemah
Orang jahiliyah menganggap bahwa segala sesuatu yang pengikut nya orang-orang lemah adalah kebatilan. Mereka mengatakan sebagaimana di dalam firman Allah subhanahu wata'ala, artinya, "Mereka berkata, "Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?"
Mereka juga menggunakan qiyas yang keliru dan mengukur kebatilan dengan kecerdasan, sebagaimana firman Allah subhanahu wata'ala, "Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya, "Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja ." (QS.Hud:27)
 
Kehidupan Zaman Jahiliyah
Kehidupan bangsa Arab sebelum diutusnya Rasulullah berada dalam kekacauan yang luar biasa. Mereka menyekutukan Allah, banyak berbuat maksiat, tidak memiliki norma, percaya kepada khurafat, dan berbagai bentuk kebobrokan moral lain.
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam, yang merupakan Nabi dan Rasul terakhir, diutus di saat tiadanya para Rasul. Vakumnya masa itu dari para pembawa risalah dikarenakan Allah murka kepada penduduk bumi baik orang Arab dan selainnya, kecuali sisa-sisa dari ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani) yang mereka telah meninggal. Dalam sebuah riwayat, Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda :
Sesungguhnya Allah melihat kapada penduduk bumi. Lalu murka kepada mereka, Arab atau ajamnya, kecuali sisa-sisa dari ahlul kitab. (HR Muslim)
Saat itu, memang hanya satu di antara dua orang ahlul kitab yang berpegang dengan kitab yang sudah dirubah dan/atau dihapus, atau dengan agama yang punah, baik bangsa Arab atau lainnya. Sebagiannya tidak diketahui dan sebagian yang lain sudah ditinggalkan. Akibatnya, seorang yang umi (tidak bisa baca tulis) hanya bisa bersemangat beribadah namun dengan apa yang ia anggap baik dan disangka memberi manfaat baik berupa bintang, berhala, kubur, benda keramat, atau yang lainnya.
Manusia saat itu benar-benar dalam kebodohan yang sangat akan ucapan-ucapan yang mereka sangka baik padahal bukan, serta amalan yang disangka baik padahal rusak. Paling mahirnya mereka adalah yang mendapat ilmu dari warisan para Nabi terdahulu namun telah samar bagi mereka antara haq dan batil. Atau yang sibuk dengan sedikit amalan meski kebanyakannnya mengamalkan bid’ah yang dibuat-buat. Walhasil, kebatilannya berlipat-lipat kali dari kebenarannya. (Iqtidha’ Sirathal Mustaqim 1/74-75)
Inilah gambaran ringkas keadaan manusia yang sangat parah saat itu, khususnya di kota Makkah dan sekitarnya. Keadaan tersebut mulai terlihat sejak munculnya Amr bin Luhay Al-Khuza’iy. Ia dikenal sebagai orang yang gemar ibadah dan beramal baik sehingga masyarakat waktu itu menempatkannya sebagai seorang ulama.
Sampai suatu saat, Amr pergi ke daerah Syam. Ketika mendapati para penduduknya beribadah kepada berhala-berhala, Amr menganggapnya sebagai sesuatu yang baik dan benar. Apalagi, Syam dikenal sebagai tempat turunnya kitab-kitab Samawi (kitab-kitab dari langit).
Ketika pulang, Amr membawa oleh-oleh berhala dari Syam yang bernama Hubal. Ia kemudian meletakkannya di dalam Ka’bah dan menyeru penduduk Makkah untuk menjadikannya sebagai sekutu bagi Allah dengan beribadah kepadanya. Disambutlah seruan itu oleh masyarakat Hijaz, Makkah, Madinah dan sekitarnya karena disangka sebagai hal yang benar. (Mukhtasor Sirah Rasul hal. 23 & 73).
Sejak itulah, berhala tersebar di setiap kabilah. Di samping Hubal yang menjadi berhala terbesar di Ka’bah dan sekitarnya dan juga menjadi sanjungan orang-orang Makkah, terdapat pula berhala Manat di antara Makkah dan Madinah. Manat merupakan sesembahan orang-orang Aus dan Khazraj dan qabilah dari Madinah. Juga ada Latta di Thaif dan Uzza. Ketiga berhala ini merupakan yang terbesar dari yang ada. (lihat Mukhtasor Siroh Rasul 75-76 Rahiqul Makhtar :35).
Akibatnya, peribadatan kepada berhala menjadi pemandangan yang sangat mencolok. Apalagi, kesyirikan tersebut disangka masyarakat waktu itu sebagai agama Ibrahim ‘alaihis salam. Padahal, tradisi menyembah berhala-berhala itu kebanyakannya adalah hasil rekayasa Amr bin Luhay yang kemudian dianggap bid’ah hasanah.
Dijelaskan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam tentang perbuatan Amr ini: “Saya melihat Amr bin Amir (bin Luhay) Al-Khuza’iy menyeret ususnya di neraka. Dia yang pertama kali melukai unta (sebagai persembahan kepada berhala dan yang pertama mengubah agama Ibrahim ‘alaihissalam)” (HR Bukhari)
Diantara tradisi syirik masyarakat waktu itu adalah menginap di sekitar berhala itu, memohonnya, mencari berkah darinya karena diyakini dapat memberi manfaat, thawaf, tunduk dan sujud kepadanya, menghidangkan sembelihan dan sesaji kepadanya, dan lain-lain. Mereka melakukan hal itu karena meyakini bahwa itu akan mendekatkan kepada Allah dan memberi syafaat sebagaimana Allah kisahkan dalam Al Qur’an. Mereka mengatakan:
“Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (Az Zumar: 3)
Dan mereka menyembah kepada selain Allah, apa yang tidak dapat mendatangkan kenmudharatan kepada mereka dan tidak (pula) manfaat. Dan mereka berkata, ’Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah’”. (Yunus: 18)
Selain kesyirikan, kebiasaan jelek yang mereka lakukan adalah perjudian dan mengundi nasib dengan 3 anak panah. Caranya dengan menuliskan “ya”, “tidak” dan dikosongkan pada ketiga anak panah itu. Ketika ingin bepergian misalnya, mereka mengundinya. Jika yang keluar “ya”, mereka pergi dan jika “tidak”, tidak jadi pergi. Jika yang kosong maka diundi lagi.
Mereka juga mempercayai berita-berita ahli nujum, peramal dan dukun, serta menggantungkan nasib melalui burung-burung. Ketika ingin melekukan sesuatu, mereka mengusir burung. Jika terbang ke arah kanan berarti terus, jika ke arah kiri berarti harus diurungkan. Selain itu, mereka juga pesimis dengan bulan-bulan tertentu. Misalnya karena pesimis dengan bulan safar, mereka kemudian merubah aturan haji sehingga tidak mengijinkan orang luar Makkah untuk haji kecuali dengan memakai pakaian dari mereka. Jika tidak mendapatkan, maka melakukan thawaf dengan telanjang.
Kehidupan sosial kemasyarakatan dalam kaitannya dengan hubungan lain jenis pun sangat rendah, khususnya di kalangan masyarakat menengah ke bawah. Sampai-sampai pada salah satu cara pernikahan mereka, seorang wanita menancapkan bendera di depan rumah. Ini merupakan tanda untuk mempersilahkan bagi laki-laki siapa saja yang ingin ‘mendatanginya’. Jika sampai melahirkan, maka semua yang pernah melakukan hubungan dikumpulkan dan diundang seorang ahli nasab untuk menentukan siapa bapaknya, kemudian sang bapak harus menerimanya.
Poligami saat itu juga tidak terbatas, sehingga seorang laki-laki bisa menikahi wanita sebanyak mungkin. Bahkan sudah menjadi hal yang biasa seorang anak menikahi bekas istri ayahnya dengan mahar semau laki-laki. Jika perempuan itu tidak mau, maka laki-laki itu akan memaksa wanita itu untuk menikah kecuali dengan siapa yang diizinkan olehnya. Sehingga dalam banyak hal, wanita terdzalimi. Sampai yang tidak berdosapun merasakan kedzaliman itu, yaitu bayi-bayi wanita yang ditanam hidup-hidup karena takut miskin dan hina.
Tentunya, kenyataan yang ada lebih dari yang tergambar di atas. Meski tidak dipungkiri di sisi lain mereka memiliki sifat atau perilaku yang baik, namun itu semua lebur dalam kerusakan agama, moral yang bejat, yang di kemudian hari seluruhnya ditentang oleh Islam dengan diutusnya Rasullallah Shallallahu ‘alaihi Wasallam sebagai pelita yang sangat terang bagi umat ini.
Dikutip dari: http://www.asysyariah.com Penulis: Ustadz Qomar Suaidi Judul: Kondisi Masyarakat Sebelum diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam

Selasa, 23 Agustus 2011

SIKSA KUBUR YANG MENGERIKAN

Manusia tidak akan pernah lepas dari siksa kubur... itu semua tergantung pada amal perbuatannya.... orang baik, insyaallah kuburnya juga baik.. orang jahat,,, pasti juga jahat....
Ayo.... kita renungkan.... masih berapa kah sisa umur kita????

Bagaimana dengan video di atas..........???
Ingat.... kematian akan segera menemui kita...... Besok.... or Lusa...



Klik aku di sini:


MENGUKUR KETENANGAN JIWA


MENGUKUR KETENANGAN JIWA

Segala puji bagi Allah atas berbagai macam nikmat yang Allah berikan. Shalawat dan salam atas suri tauladan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada keluarganya dan para pengikutnya.
Untuk mencapai ke arah jiwa yang tenang, ia bukan suatu yang mudah dan bukan pula suatu yang mustahil. Untuk mendapatkannya ia perlu diusaha, dilatih bersungguh-sungguh secara berterusan dan aktif setiap hari melalui proses bimbingan dan panduan ke atas diri individu seperti membina sikap positif, sebagai contoh ”bertafakur“, seseorang memerlukan suasana yang tenang dan sunyi. Fikiran dikosongkan daripada peristiwa hidup. Senantiasa mengingati kuasa Tuhan. Tubuh badan berasa santai dan rehat secara fizikal dan emosional. Insya Allah jika diusahakan akan berjaya.
Selain dari pegangan dan amalan agama boleh membantu individu mendapatkan ketenangan. Agama memberi kekuatan iman dan keteguhan jiwa dengan adanya kepercayaan kepada kuasa dan pertolongan Tuhan. Dalam Islam sembahyang lima waktu dan sembahyang sunat boleh melegakan fikiran serta memberi harapan kepada individu berkenaan.
Wirid, berzikir, membaca Al-Quran boleh membantu menenangkan hati. Nikmat yang dapat dirasai melalui perkara-perkara tersebut ialah ketenangan batin dan ketenteraman jiwa. Pengalaman rohaniah ini membina kekuatan iman. Zikir mengajar individu supaya bertaqwa kepada Tuhan.
Firman Allah dalam surah Ar-Ra’du ayat 28
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Maksudnya:  ”Orang-orang yang beriman menjadi tenteram dengan mengingati Allah, ingatlah bahawa dengan mengingati Allah itu tenteramlah hati. “
Sebenarnya hati orang-orang yang beriman itu senang dan tenteram kerana selalu mengingati Allah diwaktu ditimpa malapetaka. Mereka ingat kepada Allah dan cepat insaf dan memeriksa kekhilafannya agar dapat diubahnya dimasa akan datang. Oleh sebab itu hilanglah dukacitanya berganti dengan gembira dan mengharapkan kurniaan Allah.
Begitu juga jika mereka mendapat anugerah (nikmat), mereka tidak sombong, malahan mengucapkan terima kasih kepada Allah. Sebab itu hati orang-orang yang beriman itu senang dan tenteram baik diwaktu susah ataupun gembira. Kesenangan hati itu ialah kebahagiaan yang sebenarnya. Sebab itu dalam Islam amat dipentingkan sekali menegakkan sembahyang lima kali sehari semalam kerana dalam sembahyang itulah kita mengingati Allah dan membersihkan jiwa. Nabi mengatakan bahawa sembahyang itu tempat ketenangan jiwanya dan kesenangan hatinya. Oleh yang demikian senanglah hati menghadapi segala kemungkinan dan kesulitan dalam masyarakat hidup di dunia ini.


Firman Allah dalam surah Al-Fajr ayat 27-30:
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ إرْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً فَادْخُلِي فِي عِبَادِي  وَادْخُلِي جَنَّتِي
Artinya: ”Wahai orang yang mempunyai jiwa yang sentiasa tenang tetap dengan kepercayaan dan bawaan baiknya, kembalilah kepada Tuhanmu dengan keadaan engkau berpuasa hati (dengan segala nikmat yang diberikan), lagi diredhai (disisi Tuhanmu), serta masuklah engkau dalam kumpulan hamba-hambaku  yang berbahagia, dan masuklah ke dalam syurgaku. “
TOLAK UKUR KETENANGAN JIWA
1.     Ketenangan jiwa yang tidak tergoyahkan ( Istiqomqh)
Jadi muslim yang beristiqamah adalah muslim yang selalu mempertahankan keimanan dan akidahnya dalam situasi dan kondisi apapun.
Istiqamah bukan hanya diperintahkan kepada manusia biasa saja, akan tetapi istiqamah ini juga diperintahkan kepada manusia-manusia besar sepanjang sejarah peradaban dunia, yaitu para Nabi dan Rasul. Perhatikan ayat berikut ini;
فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Artinya:    “Maka tetaplah (istiqamahlah) kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
            (Q.S. Hud:112)

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ  أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Artinya:    “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. (Q.S Al Ahqof :13-14).
2.     Tenang bila berdzikir kepada Alloh, SWT.
Kecemasan akan menjauhi orang yang selalu berdzikir karena merasakan Allah Swt selalu dekat dengan-Nya.”Ingatlah, dengan berdzikir kepada Allah hati akan tenang” (Q.S. 13:28). Dzikrullah akan membawa ketenangan batin karena ingat kepada Allah berarti ingat akan kekuasaan-Nya. Masalah seberat dan sebesar apa pun, sangat kecil dalam pandangan Allah. Orang yang berdzikir akan merasa malu pada Alloh sehingga tercegah untuk berbuat yang dapat membuat-Nya murka dan sebaliknya selalu berupaya melakukan amal saleh. Ia akan malu jika tidak shalat, tidak mengeluarkan zakat, tidak berpuasa, tidak naik haji padahal mampu, tidak berjuang membela agama Allah. Ia akan malu jika mengabaikan seruan Islam untuk berjihad, berinfak, bersedekah, berdakwah. Ia akan malu jika diam saja ketika banyak saudara seimannya yang menderita, dizhalimi musuh-musuh Allah.
Orang yang selalu dzikrullah di mana saja ia berada, dalam keadaan sendiri ataupun bersama orang lain, dan dalam kondisi apa saja, akan mendapat perlindungan-Nya. Sabda Nabi Saw,  “Orang yang bangun di pagi hari hanya dengan Allah di dalam pikirannya, maka Allah akan menjaganya di dunia ini dan di akhirat”.
3.     Terbebas dari rasa takut dan sedih
Manusia dalam hidupnya selalu merasa  takut dan sedih, oleh karena itu ia akan  ditimpa rasa gelisah, susah dan pesimis. Dimana jika dibiarkan berlarut-larut, bukan saja menimbulkan efek buruk bagi hati, lebih dari itu, ia akan membinasakan jasmani secara perlahan. Kelak manusia akan menghadapi siatuasi yang kacau balau saat-saat menghadapi hari perhitungan (yaum al hisab), ketika amal manusia ditimbang (mizan), saat nasib manusia ditentukan masuk surga atau neraka. Hanya Dia yang bisa memberi rasa aman. Pada saat itu hanya hamba-Nya yang mukmin saja yang akan mendapatkan rasa aman.

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ

Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan ‘Tuhan kami adalah Allah’, kemudian mereka meneguhkan pendiriannya, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, ‘janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih. Bergembiralah kamu (dengan memperoleh) surga yang telah dijanjikan oleh Allah kepadamu. Kami pelindung-pelindung pada kehidupan di dunia dan akhirat. Di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan apa yang kamu minta." (QS. Fushshilat: 30-31).


Klik aku di sini:

Minggu, 21 Agustus 2011

I’TIKAF

I'TIKAF

Segala puji bagi Allah atas berbagai macam nikmat yang Allah berikan. Shalawat dan salam atas suri tauladan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada keluarganya dan para pengikutnya.
Para pembaca -yang semoga dimudahkan Allah untuk melakukan ketaatan-. Perlu diketahui bahwa sepertiga terakhir bulan Ramadhan adalah saat-saat yang penuh dengan kebaikan dan keutamaan serta pahala yang melimpah. Di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan. Oleh karena itu suri tauladan kita -Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam- dahulu bersungguh-sungguh untuk menghidupkan sepuluh hari terakhir tersebut dengan berbagai amalan melebihi waktu-waktu lainnya.
I’tikaf dan Pensyari’atannya
I'tikaf dalam pengertian bahasa berarti berdiam diri yakni tetap di atas sesuatu. Sedangkan dalam pengertian syari'ah agama, I'tikaf berarti berdiam diri di masjid sebagai ibadah yang disunahkan untuk dikerjakan di setiap waktu dan diutamakan pada bulan suci Ramadhan, dan lebih dikhususkan sepuluh hari terakhir untuk mengharapkan datangnya Lailatul Qadr.
Qs. Al Baqarah, 125
وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ
Artinya:    Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, yang iktikaf, yang rukuk dan yang sujud".
Ummul Mu’minin Aisyah radhiyallahu ‘anha- berkata,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ.
Artinya:    “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR. Muslim)
Aisyah radhiyallahu ‘anha juga mengatakan,
كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ
Artinya:    “Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para istri beliau dari berjima’, pen), menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari & Muslim)
عن ابن عمر رضي الله عنهما قال :كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يعتكف العشر الأواخر من رمضان ، متفق عليه .
Artinya:    " Dari Ibnu Umar ra. ia berkata, Rasulullah saw. biasa beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan." (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)
عن أبي هريرة رضى الله عنه قال كان النبي صلى الله عليه وسلم يعتكف في كل رمضان عشرة أيام فلما كان العام الذي قبض فيه اعتكف عشرين يوما ـ رواه البخاري.
Artinya:    "  Dari Abu Hurairah R.A. ia berkata, Rasulullah SAW. biasa beri'tikaf pada tiap bulan Ramadhan sepuluh hari, dan tatkala pada tahun beliau meninggal dunia beliau telah beri'tikaf selama dua puluh hari. (Hadist Riwayat Bukhori).
Maka perhatikanlah apa yang dilakukan oleh suri tauladan kita! Lihatlah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah malah mengisi hari-hari terakir Ramadhan dengan berbelanja di pusat-pusat perbelanjaan untuk persiapan lebaran (hari raya). Yang beliau lakukan adalah bersungguh-sungguh dalam melakukan ibadah seperti shalat, membaca Al Qur’an, dzikir, sedekah dan lain sebagainya.
Maka, kita harus merenungkan hal ini!
I’tikaf Harus di Masjid dan Boleh di Masjid Mana Saja
I’tikaf disyari’atkan dilaksanakan di masjid berdasarkan firman Allah Ta’ala,
وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ
Artinya: “(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid.” (QS. Al Baqarah [2]: 187)
Demikian juga dikarenakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu juga istri-istri beliau melakukannya di masjid, dan tidak pernah di rumah sama sekali.
Wanita Juga Boleh Beri’tikaf
Dibolehkan bagi wanita untuk melakukan i’tikaf sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan istri tercinta beliau untuk beri’tikaf. (HR. Bukhari & Muslim)
Namun wanita boleh beri’tikaf di sini harus memenuhi 2 syarat: [1] Diizinkan oleh suami dan [2] Tidak menimbulkan fitnah (masalah bagi laki-laki). (Lihat Shohih Fiqh Sunnah II/151-152)


Yang Membatalkan I’tikaf
Beberapa hal yang membatalkan i’tikaf adalah: [1] Keluar dari masjid tanpa alasan syar’i atau tanpa ada kebutuhan yang mubah yang mendesak (misalnya untuk mencari makan, mandi junub, yang hanya bisa dilakukan di luar masjid), [2] Jima’ (bersetubuh) dengan istri berdasarkan Surat Al Baqarah: 187 di atas. (Lihat Shohih Fiqh Sunnah II/155-156)
Tujuan I'tikaf.
1.      Dalam rangka menghidupkan sunnah sebagai kebiasaan yang dilakukan oleh Rasulullah saw. dalam rangka pencapaian ketakwaan hamba.
2.      Sebagai salah satu bentuk penghormatan kita dalam meramaikan bulan suci Ramadhan yang penuh berkah dan rahmat dari Allah swt.
3.      Menunggu saat-saat yang baik untuk turunnya Lailatul Qadar yang nilainya sama dengan ibadah seribu bulan sebagaimana yang difirmankan oleh Allah dalam surat 97:3.
4.      Membina rasa kesadaran imaniyah kepada Allah dan tawadlu' di hadapan-Nya, sebagai mahluk Allah yang lemah.
Rukun I'tikaf.
I'tikaf dianggap syah apabila dilakukan di masjid dan memenuhi rukun-rukunnya sebagai berikut :
1.      Niat. Niat adalah kunci segala amal hamba Allah yang betul-betul  mengharap ridla dan pahala dari-Nya.
2.      Berdiam di masjid. Maksudnya dengan diiringi dengan tafakkur, dzikir, berdo'a dan lain-lainya.
3.      Di dalam masjid. I'tikaf dianggap syah bila dilakukan di dalam masjid, yang biasa digunakan untuk sholat Jum'ah.
4.      Islam dan suci serta akil baligh.
Cara ber-I'tikaf.
1.      Niat ber-I'tikaf karena Allah.
2.      Berdiam diri di dalam masjid dengan memperbanyak berzikir, tafakkur, membaca do'a, bertasbih dan memperbanyak membaca Al-Qur'an.
3.      Diutamakan memulai I'tikaf setelah shalat subuh, sebagaimana hadist Rasulullah saw.
وعنها رضى الله عنها قالت كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا أراد أن يعتكف صلى الفجر ثم دخل معتكفة "ـ متفق عليه .
Artinya: "Dan dari Aisyah, ia berkata bahwasannya Nabi saw. apabila hendak ber-I'tikaf beliau shalat subuh kenudian masuk ke tempat I'tikaf. (H.R. Bukhori, Muslim)
4.      Menjauhkan diri dari segala perbuatan yang tidak berguna. Dan disunnahkan memperbanyak membaca:
أللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عنا
            Ya Allah sesungguhnya Engkau Pemaaf, maka maafkanlah daku.

Waktu I'tikaf.
1.      Menurut mazhab Syafi'i I'tikaf dapat dilakukan kapan saja dan dalam waktu apa saja, dengan tanpa batasan lamanya seseorang ber-I'tikaf. Begitu seseorang masuk ke dalam masjid dan ia niat I'tikaf maka syahlah I'tikafnya.
2.      I'tikaf dapat dilakukan selama satu bulan penuh, atau dua puluh hari. Yang lebih utama adalah selama sepuluh hari terakhir bulan suci Ramadhan sebagaimana dijelaskan oleh hadist di atas.
Hal-hal yang membatalkan I'tikaf.
1.      Berbuat dosa besar.
2.      Bercampur dengan istri.
3.      Hilang akal karena gila atau mabuk.
4.      Murtad (keluar dari agama).
5.      Datang haid atau nifas dan semua yang mendatangkan hadas besar.
6.      Keluar dari masjid tanpa ada keperluan yang mendesak atau uzur, karena maksud I'tikaf adalah berdiam diri di dalam masjid dengan tujuan hanya untuk ibadah.
7.      Orang yang sakit dan  membawa kesulitan dalam melaksanakan I'tiakf.
Hikmah Ber-I'tikaf .
1.      Mendidik diri kita lebih taat dan tunduk kepada Allah.
2.      Seseorang yang tinggal di masjid mudah untuk memerangi hawa nafsunya, karena masjid adalah tempat beribadah dan membersihkan  jiwa.
3.      Masjid merupakan madrasah ruhiyah yang sudah barang tentu selama sepuluh hari ataupun lebih hati kita akan terdidik untuk selalu suci dan bersih.
4.      Tempat dan saat yang baik untuk menjemput datangnya Lailatul Qadar.
5.      I'tikaf adalah salah satu cara untuk meramaikan masjid.
6.      Dan ibadah ini adalah salah satu cara untuk menghormati bulan suci Ramadhan.

Perbanyaklah dan sibukkanlah diri dengan melakukan ketaatan tatkala beri’tikaf seperti berdo’a, dzikir, dan membaca Al Qur’an. Semoga Allah memudahkan kita untuk mengisi hari-hari kita di bulan Ramadhan dengan amalan sholih yang ikhlas dan sesuai dengan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.


Klik aku di sini: