SELAMAT DATANG

Selamat Datang di http://widodoalgani.blogspot.com
Semoga Bermanfaat.
Mohon tinggalkan komentar.

Selasa, 25 Oktober 2011

OTOT-OTOT DINDING PERUT BAGIAN DEPAN


OTOT-OTOT DINDING PERUT BAGIAN DEPAN

Otot/Persarafan
Origo
Insertio
Fungsi
1. M. Rectus abdominis



Nn. Intercostales
(Nn. thoracici); percabangan ventral yang jarang dari Nn, Lumbales bagian atas
Cartilago costalis tulang rusuk ke 5-7 (permukaan luar), Proc. Xiphoideus, Ligg. Costoxiphodea.
Crista pubica ossis coxea, symphysis pubica.
Menarik dada kearah Pelvis, menekan perut, pernafasan perut (ekspirasi)
2. M. Pyramidalis



Nn. intercostales kaudal (Nn. Thoracici)
(otot yang tidak selalu ada
Crista pubica ossis coxea, symphysis pubica (ventral dari M. Rectus abdominis)
Linea alba
Mengencangkan linea alba

OTOT-OTOT DINDING PERUT LATERAL

Otot/Persarafan
Origo
Insertio
Fungsi
1.  M. Obliquus externus abdominis



Nn. Intercostales
Kaudal (Nn. Thoracici); N. Iliohypogastricus; N. Illioninguinalis (plexus lumbalis)
Rusuk ke-5 – ke-12
(Permukaan luar, bertautan dengan origo M. Serratus anterior)
Labium externum (crista iliaca), Lig. Inguinale, tuberculum pubicum, crista pubica, linea alba (berperan pada penyusunan lembar depan dari vagina musculi recti abdominis)
Aktif satu sisi: rotasi thorax ke arah berlawanan, fleksi lateral tulang belakang;
aktif kedua sisi: menarik thorax ke arah panggul, menekan perut, pernapasan perut (ekspirasi)
2.  M. Obliquus internus abdominis



Nn. intercostales kaudal (Nn. Thoracici)
N. Iliohypogastricus; N. Illioninguinalis (plexus lumbalis)
Fascia thoracolumbalis (lembar permukaan), linea intermedia (crista iliaca), Lig. Inguinale (dua pertiga bagian lateral)
Cartilago costalis rusuk ke-10 (ke-9) sampai ke-12 (tepi bawah), Linea alba (berperan pada penyusunan lembar depan dan belakang vagina musculi recti abdominis di atas Linea arcuata, di bawahnya melintas seluruh serabut tendonya menuju ke lembar depan). Pada laki-laki, erabut-serabut yang paling bawah memisahkan diri menjadi M. Cremaster dan masuk ke dalam funiculus spermaticus
Aktif satu sisi: rotasi thorax ke sisi yang sama, fleksi lateral tulang belakang;
Aktif dua sisi: menarik thorax ke arah panggul, menekan perut, pernapasan perut (ekspirasi)
M. cremaster menarik testis dan kantong testis ke atas.
3.  M. Transversus abdominis



Nn. intercostales kaudal (Nn. Thoracici)
N. Iliohypogastricus; N. Illioninguinalis
(plexus lumbalis)
N. genitofemoralis
Cartilago costalis rusuk (ke-5, ke-6) ke 7 – ke 12 (permukaan dalam), Procc, costales vertebrae lumbalis (diatas lembar dalam fascia thoracolumbalis), labium internum (Crista iliaca), lig. Inguinale (sepertiga bagian lateral)
Linea alba (berpran pada penyusunan lembar belakang vagina musculi recti abdominis di atas linea arcuata, di bawah berperan pada penyusunan lembar depan). Pada laki-laki serabut-serabut yang paling bawah memisahkan diri membentuk M. Cremaster dan masuk ke dalam funiculus spermaticus
Menekan perut, pernapasan perut (ekspirasi)
OTOT BAGIAN BELAKANG DINDING PERUT

Otot/Persarafan
Origo
Insertio
Fungsi
M. quadratus lumborum



Rr. musculares (plexus lumbalis);
N. intercostalis
(N. thoracicus (T12))
Labium internum (crista iliaca)
Sepertiga bagian belakang), lig. Illiolumbale
Rusuk ke-12 (daerah medial), proc costalis vertebrae lumbalis ke-4 – ke-1
Menurunkan rusuk (ekspirasi), fleksi lateral columna vertebralis.

 
OTOT DASAR PANGGUL

Otot/Persarafan
Origo
Insertio
Fungsi
1.  M. Levator ani



Cabang-cabang N. Sacralis (S3 dan S4)
Terdiri dari bagian otot-otot berikut:
M. pubococcygeus
M. levator prostatae
M. pubovaginalis
M. puborectalis
M. iliococeygeus
M. pubococcygeus: os pubis (permukaan dalam dekat symphysis pubica), arcus tendineus musculi levatoris ani, spina ischiadica.
M. illiococcygeus: arcus tendeneus musculi levatoris ani (sepertiga bagian belakang)
Centrum tendineum perinei (serabut-serabut prarektal), pada pria: fascia pada kelenjar prostat (M. Levator prostatae), pada wanita: dinding vagina (M. Pubovaginalis), menyebar ke dalam M. Sphincter ani externus, pembentukan simpul di belakang anus dengan serabut-serabut dari sisi yang berlawanan (M. Puborectalis), corpus anococcygeum. Os coccygis
Mencengkeram rectum dari belakang; tepi yang bebas sebelah medial membentuk gerbang levator untuk masuknya urethra pada pria, pada wanita untuk masuknya Urethra dan vagina; otot ini bekerja sebagai penahan dan pengikat dasar panggul.
2.  M. Ischiococcygeus



Cabang-cabang N. Sacralis (S4 dan S5)

Spina ischiadica (permukaan dalam; sebagian besar bersatu dengan lig. Sacrospinale)
Ps sacrum (tepi samping segmen bawah) Os coccygis
Memperkuat dasar panggul
3.  M. Sphincter ani externus



N. pudendus
(plexus sacralis)


Pars subcutanea; dermis dan subcutis yang melingkar mengelilingi anus.
Pars superficialis: centrum tendineum perinei
Pars profunda: simpul otot yang tinggi hingga mencapai M. Levetor ani dan berbentuk cincin.
Dermis dan subcutis melingkar di sekeliling anus, lig. Anococcygeum
Otot penutup anus bagian luar
4.  M. Transversus perinei pfoundus



N. pudendus
(plexus sacralis)

Ramus ossis ischi, selubung jaringan ikat vasa pudenda interna (terbentuk melintang melalui Arcus pubis atau angulus subpubicus, dilengkapi dengan lig. Pubicum inferius dan lig. Transversum perinei profundum)
Lempeng otot penahan berbentuk trapesium, dengan muara urethra pada pria serta urethra dan vagina pada wanita
Melindungi gerban levator
5.  M. Transversus perinei superficialis



N. pudendus (plexus sacralis) (otot yang tidak selalu ada)

Bagian permukaan yang terbelah pada M. Transversus perinei profundus
Menyebar ke dalam centrum tendineum perinei
Menopang M. Transversus perinei profundus
6.  M. Sphincter urethrae



N. pudendus (plexus sacralis) alur otot yang berbentuk cincin dan menggenggam erat Pars membranacea urethrae

Otot cincin
Otot cincin
Melindungi gerban levator; bagian dari organ kontinensia untuk vesica urinaria; menutup kandung kencing pada saat ejakulasi
7.  M. Ischiocavernosus



N. pudendus
(plexus sacralis)

Ramus ossis ischii
Tunica albuginea corporum cavernosorum
Pada pria memfiksasi crura penis, pada wanita crura elitoridis pada ramus inferior ossis pubis dan pada ramus ossis ischii, juga pada diaphragma urogenitale; turut membantu pada saat ejakulasi atau orgasmus.
8.  M. Bulbospongiosus



N. pudendus
(plexus sacralis)
Pada pria mencengkeram bulbus penis, pada wanita bulbus vestibuli

Pada centrum tendineum, pada pria juga di sisi bawah corpuspongiosum penis (raphe penis)
Pada pria, dari samping corpus spongiosum inferior dan punggung penis; pada wanita, serabut-serabutnya menempel pada corpus cavernosum clitoridis dan pada fascia diaphragmatis urogenitalis inferior.
Pada pria memfiksasi bulbus penis, pada wanita bulbus elitoridis pada diaphragma urogenitale; pada pria turut membantu pada saat ejakulasi dan pada wanita pada saat orgasmus.


OTOT-OTOT VENTRAL PAHA
Otot/Persarafan
Origo
Insertio
Fungsi
1.  M. Quadriceps femoris



N. femoralis
(plexus lumbalis)
M. rectus femoris;
Bersendi ganda;
Mm. vasti medialis,
Lateralis dan intermedius:
Bersendi tunggal
M. rectus femoris, caput rectum: spina iliaca anterior inferior.
M. rectus femoris, caput reflexum: tepi kranial acetabulum.
M. vastus medialis: labium mediale lineae asperae (dua pertiga bagian bawah)
M. vastus lateralis: trochanter major (daerah distal). Labium laterale lineae asperae.
M. vastus intermedius: facies anterior femoris (dua pertiga bagian atas)
M. articularis genus: facies anterior femoris (seperempat bagian distal)

Patella (tepi proximal) dan tepi-tepi samping), tuberositas tibiae (di atas lig. Patellae), proximal dari ujung tibia (daerah di samping tuberositas tibiae di atas retinacula patellae)
Sendi panggul
(hanya M. Rectus femoris); fleksi

sendi lutut:
ekstensi


 
OTOT HAMSTRING

Otot/Persarafan
Origo
Insertio
Fungsi
1.  M. Biceps femoris



Caput longum: N. Ischiadicus, bagian tibial (plexus sacralis) caput brave: N. Ischiadicus, bagian fibula (plexus sacralis)
Caput longum: bersendi ganda caput brave: bersendi tunggal
Caput longum: tuber ischiadicum (bersatu dengan M. Semitendinosus)
Caput breve: labium laterale dari linea aspera (sepertiga bagian tengah)
Caput fibulae (memisahkan Lig. Collaterale fibulare), menyebar ke dalam fascia cruris
Sendi panggul
Ekstensi, adduksi, rotasi luar

sendi lutut:
fleksi, rotasi ke luar

2.  M. Semitendinosus



N. ischiadicus, bagian tibial (plexus sacralis)
Tuber ischiadicum (bersatu dengan caput longum musculi bicipitis femoris)
Tuberositas tibiae (permukaan medali)
Sendi panggul
Ekstensi, adduksi, rotasi ke dalam

sendi lutut:
fleksi, rotasi ke dalam

3.  M. Semimembranosus



N. ischiadicus, bagian tibial (plexus sacralis)

Tuber ischiadicum
Proximal ujung tibia (sebelah bawah condylus medialis), kapsul belakang sendi lutut, lig. Popliteum obliquum, fascia M. Popliteus. Insertio bercabang tiga dari M. Semimembranosus dahulu dikenal sebagai pres anserinus profundus
Sendi panggul
Ekstensi, adduksi, rotasi ke dalam

sendi lutut:
fleksi, rotasi ke dalam

Minggu, 23 Oktober 2011

 GURU SEBAGAI PEMBIMBING BUKAN DIKTATOR


Perubahan paradigma pembelajaran dari pembelajaran pasif (teacher-centered) ke pembelajaran aktif (student-centered), menghendaki adanya perubahan peran guru dalam proses pembelajaran. Salah satu peran yang harus dijalankan guru adalah sebagai pembimbing. Peran guru sebagai pembimbing pada dasarnya adalah peran guru dalam upaya membantu siswa  agar dapat mengembangkan segenap potensi yang dimilikinya melalui hubungan interpersonal yang akrab dan saling percaya. Wina Senjaya (2006) menyebutkan salah satu peran yang dijalankan oleh guru yaitu sebagai pembimbing dan untuk menjadi pembimbing baik guru harus memiliki pemahaman tentang anak yang sedang dibimbingnya.
Guru berusaha membimbing siswa agar dapat menemukan berbagai potensi yang dimilikinya, membimbing siswa agar dapat mencapai dan melaksanakan tugas-tugas perkembangan mereka, sehingga dengan ketercapaian itu ia dapat tumbuh dan berkembang sebagai individu yang mandiri dan produktif.  Siswa adalah individu yang unik. Artinya, tidak ada dua individu yang sama. Walaupun secara fisik mungkin individu memiliki kemiripan, akan tetapi pada hakikatnya mereka tidaklah sama, baik dalam bakat, minat, kemampuan dan sebagainya. Di samping itu setiap individu juga adalah makhluk yang sedang berkembang. Irama perkembangan mereka tentu tidaklah sama juga. Perbedaan itulah yang menuntut guru harus berperan sebagai pembimbing.
Hubungan guru dan siswa seperti halnya seorang petani dengan tanamannya. Seorang petani tidak bisa memaksa agar tanamannya cepat berbuah dengan menarik batang atau daunnya. Tanaman itu akan berbuah manakala ia memiliki potensi untuk berbuah serta telah sampai pada waktunya untuk berbuah. Tugas seorang petani adalah menjaga agar tanaman itu tumbuh dengan sempurna, tidak terkena hama penyakit yang dapat menyebabkan tanaman tidak berkembang dan tidak tumbuh dengan sehat, yaitu dengan cara menyemai, menyiram, memberi pupuk dan memberi obat pembasmi hama. Demikian juga halnya dengan seorang guru. Guru tidak dapat memaksa agar siswanya jadi ”itu” atau jadi ”ini”. Siswa akan tumbuh dan berkembang menjadi seseorang sesuai dengan minat dan bakat yang dimilikinya. Tugas guru adalah menjaga, mengarahkan dan membimbing agar siswa tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi, minat dan bakatnya. Inilah makna peran sebagai pembimbing. Jadi, inti dari peran guru sebagai pembimbing adalah terletak pada kekuatan intensitas hubungan interpersonal antara guru dengan siswa yang dibimbingnya
Lebih jauh, Abin Syamsuddin (2003) menyebutkan bahwa guru sebagai pembimbing dituntut untuk mampu mengidentifikasi siswa yang diduga mengalami kesulitan dalam belajar, melakukan diagnosa, prognosa, dan kalau masih dalam batas kewenangannya, harus membantu pemecahannya (remedial teaching).  Berkenaan dengan upaya membantu mengatasi kesulitan atau masalah siswa, peran guru tentu berbeda dengan peran yang dijalankan oleh konselor profesional. Sofyan S. Willis (2004) mengemukakan tingkatan masalah siswa yang mungkin bisa dibimbing oleh guru yaitu masalah yang termasuk kategori ringan, seperti: membolos, malas, kesulitan belajar pada bidang tertentu, berkelahi dengan teman sekolah, bertengkar, minum minuman keras tahap awal, berpacaran, mencuri kelas ringan.
Dalam konteks organisasi layanan Bimbingan dan Konseling, di sekolah, peran dan konstribusi guru sangat diharapkan guna kepentingan efektivitas dan efisien pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Prayitno (2003) memerinci peran, tugas dan tanggung jawab guru-guru mata pelajaran dalam bimbingan dan konseling adalah :
  • Membantu memasyarakatkan pelayanan bimbingan dan konseling kepada siswa.
  • Membantu konselor mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling, serta pengumpulan data tentang siswa-siswa tersebut.
  • Mengalihtangankan siswa yang memerlukan pelayanan bimbingan dan konseling kepada konselor.
  • Menerima siswa alih tangan dari konselor, yaitu siswa yang menuntut konselor memerlukan pelayanan khusus. seperti pengajaran/latihan perbaikan,  dan program pengayaan.
  • Membantu mengembangkan suasana kelas, hubungan guru-siswa dan hubungan siswa-siswa yang menunjang pelaksanaan pelayanan pembimbingan dan konseling.
  • Memberikan kesempatan dan kemudahan kepada siswa yang memerlukan layanan/kegiatan bimbingan dan konseling untuk mengikuti /menjalani layanan/kegiatan yang dimaksudkan itu.
  • Berpartisipasi dalam kegiatan khusus penanganan masalah siswa, seperti konferensi kasus.
  • Membantu pengumpulan informasi yang diperlukan dalam rangka penilaian pelayanan bimbingan dan konseling serta upaya tindak lanjutnya.
Jika melihat realita bahwa di Indonesia jumlah  tenaga konselor profesional memang masih relatif terbatas, maka  peran guru sebagai pembimbing tampaknya menjadi penting. Ada atau tidak ada konselor profesional  di sekolah, tentu   upaya pembimbingan terhadap siswa mutlak diperlukan. Jika kebetulan di sekolah sudah tersedia tenaga konselor profesional, guru bisa bekerja sama dengan konselor bagaimana seharusnya membimbing siswa di sekolah. Namun jika belum, maka kegiatan pembimbingan siswa tampaknya akan bertumpu pada guru.
Agar guru dapat mengoptimalkan perannya sebagai pembimbing, berikut ini  beberapa hal yang perlu diperhatikan:
  1. Guru harus memiliki  pemahaman tentang anak yang sedang dibimbingnya. Misalnya pemahaman  tentang gaya dan kebiasaan belajar serta pemahaman tentang potensi dan bakat yang dimiliki anak, dan latar belakang kehidupannya. Pemahaman ini sangat penting, sebab akan menentukan teknik dan jenis bimbingan yang harus diberikan kepada mereka.
  2. Guru dapat memperlakukan siswa sebagai individu yang unik dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar sesuai dengan keunikan yang dimilikinya.
  3. Guru seyogyanya  dapat menjalin hubungan yang akrab, penuh kehangatan dan saling percaya, termasuk di dalamnya berusaha menjaga kerahasiaan data siswa yang dibimbingnya, apabila data itu bersifat pribadi.
  4. Guru senantiasa memberikan kesempatan kepada siswanya untuk mengkonsultasikan berbagi kesulitan yang dihadapi siswanya, baik ketika sedang berada di kelas maupun di luar kelas.
  5. Guru sebaiknya dapat memahami prinsip-prinsup umum konseling dan menguasai teknik-tenik dasar konseling untuk kepentingan pembimbingan siswanya, khususnya ketika siswa mengalami kesulitan-kesulitan tertentu dalam belajarnya.


Klik aku di sini:

Selasa, 18 Oktober 2011

NATA DE COCO


PENDAHULUAN

Sejak tahun 1988 Indonesia menduduki urutan pertama sebagai negara yang memiliki areal pertanaman kelapa terluas di dunia. Bahkan pada tahun 1990 luas arealnya mencapai 30,9 % dari total luas areal kelapa dunia. Meskipun demikian tetapi produksinya hanya menduduki urutan kedua.
Adanya potensi yang sangat besar ini harus dimanfaatkan agar tingkat pendapatan petani juga dapat ditingkatkan. Namun, sampai saat ini masih ada beberapa kendala yang menyebabkan pendapatan petani kelapa masih rendah. Kendalanya adalah pengolahan bahan yang masih bersifat tradisional dan kurangnya industri pengolahan kelapa. Masalah di atas menyebabkan petani tidak mempunyai alternatif  lain untuk memasarkan kelapanya. Padahal dari komoditi ini dapat diperoleh aneka olahan yang mempunyai nilai ekonomi dan prospek pasar yang baik. Aneka olahan itu adalah arang batok, serat sabut kelapa, kelapa parut kering (desiccated coconut), gula kelapa, nata de coco, dan lain-lain,
Air kelapa merupakan salah satu produk dari tanaman kelapa yang belum dimanfaatkan. Air kelapa muda merupakan minuman yang sangat popular dan air kelapa dari buah yang tua telah dicabangkan sebagai produk. Namun pemasarannya sangat terbatas (Suhardiyono, 1993). Lebih lanjut dinyatakan oleh Rony Palungkung (1993) air kelapa muda ini rasanya manis, mengandung mineral 4%, gula 2%, abu dan air. Bila buah makin tua, maka airnya kurang manis. Air kelapa juga dapat digunakan untuk berbagai keperluan. Selain sebagai penyegar tenggorokan, juga dapat diolah menjadi sirup, nata de coco dan lain sebagainya.
Nata de Coco adalah sejenis agar-agar yang mula-mula dihasilkan oleh beberapa daerah di Filiphina, terutama di daerah Laguna dan Quezon. Dewasa ini beberapa negara telah berhasil membuat bahan makanan ini dan merupakan bahan makanan yang potensial bagi negara-negara penghasil kelapa.
Nata de Coco dibuat dari air kelapa tua yang dihasilkan dari kegiatan beberapa jenis bakteri yang dibubuhkan ke dalam air kelapa tersebut. bakteri yang digunakan untuk membuat Nata de Coco adalah Leuconostoc mesenteroides (Alaban, 1962), Acetobacter aceti (Mendoza, 1953) atau Acetobacter xylinum (Palo and Larve, 1954; Saturnino Dimaguila, 1967).
Dewasa ini banyak penelitian yang mengembangkan produk Nata dengan bahan lain seperti buah Nanas (Musa Hubeis, 1996), Molase (Farlinda Rusdiana, 1996), Limbah Tahu (Gatot Budi Hartoyo, 1995), Nira Kelapa (Pusat Penelitian Kelapa Sumatera Utara dalam buku San Afri Awang, 1991) dan juga banyak penelitian tentang Nata yang mengarah pada formulasi pembuatan nata namun belum ada penelitian tentang penggunaan berbagai macam konsentrasi starter.
Pada proses pembuatan Nata de Coco terdapat proses inokulasi, yaitu pemberian starter atau bibit ke dalam medium fermentasi. Pemberian starter dilakukan dengan cara menuangkan hasil biakan bakteri ke dalam medium sebanyak 5% dari volume medium. Dan biakan bakteri tersebut merupakan hasil fermentasi starter selama 3-5 hari. Penambahan starter ke dalam medium fermentasi sebanyak 5% tersebut merupakan batas minimal. Semakin banyak penambahan starter maka akan semakin baik, karena dapat mempercepat fase adaptasi (Anonymous D, 1995).


PEMBAHASAN

A.     Klasifikasi Kelapa
Kelapa dikenal sebagai tanaman serba guna karena seluruh bagian tanaman ini bermanfaat bagi kehidupan manusia. Bagian-bagian tanaman kelapa yang sangat bermanfaat bagi manusia antara lain batang, daun, bunga, buah dan air kelapa.
Menurut P. Suhardiman (1993: 16) klasifikasi tanaman kelapa adalah:
Devisio                   = Spermatophyta
Sub Devisio            = ANgiospermae
Sub Klas                = Monocothiledoneae
Ordo                      = Palmoles
Familia                   = Palmae
Genus                     = Cocos
Species                  = Cocos nucivera L.
Tanaman kelapa (Cocos nucivera L.) merupakan tanaman tahunan termasuk familia Palmae dan dibagi menjadi tiga jenis diantaranya ialah jenis kelapa dalam, genjah dan kelapa hibrida.
Pada mulanya hanya ada dua varietas kelapa yang dikenal, yaitu varietas baru, yaitu kelapa hibrida yang merupakan hasil persilangan antara varietas genjah (ibu) dengan varietas dalam (bapak).
  1. Varietas Dalam
Varietas ini terdapat di berbagai negara produsen kelapa. Varietas ini berbatang tinggi dan besar, tingginya mencapai 30 m atau lebih. Kelapa dalam mulai berbuat agak lambat, yaitu antara 6-8 tahun setelah tanam. Umurnya dapat mencapai 100 tahun lebih.
 Keunggulan varietas ini adalah:
-         Produk kopranya lebih tinggi, yaitu sekitar 1 ton kopra/ha/tahun pada umur sekitar 10 tahun,
-         Daging buah tebal dan keras dengan kadar minyak yang tinggi, dan
-         Lebih tahan terhadap hama dan penyakit.
Sedang kekurangannya adalah:
-         Lambat berbuah (6-7 tahun setelah tanam).
-         Produksi tandan buah sedikit, yaitu sekitar 11 tandan/pohon/tahun.
-         Produktivitas sekitar 90 butir/pohon/tahun, dan
-         Habitus tanaman lebih tinggi, yaitu sekitar 20 m pada umur 50 tahun.  

  1. Varietas Genjah
Tanaman kelapa varietas genjah berbatang ramping, tinggi batang mencapai 5 m atau lebih, masa berbuah 3-4 tahun setelah tanam, dan dapat mencapai umur 50 tahun.
            Kelebihan varietas genjah adalah:
-         Lebih cepat berbuah (3-4 tahun setelah tanam),
-         Produksi tandan buah lebih banyak, yaitu sekitar 18 tandan/pohon/tahun,
-         Habitus tanaman pendek, sekitar 10 m pada umur 40 tahun
-         Produktivitasnya sekitar 140 butir/pohon/tahun
Sedang kekurangannya adalah:
-         Produksi kopra rendah, sekitar 0,5 ton/ha/tahun pada umur 10 tahun,
-         Daging buah tebal, rapuh, dan kandungan minyaknya rendah,
serta
-         Peka terhadap gangguan hama dan penyakit.              

  1. Varietas Hibrida
            Kelebihan varietas hibrida adalah:
-         Lebih cepat berbuah (3-4 tahun setelah tanam),
-         Produksi kopra tinggi, sekitar 6-7 ton/hektar/tahun, pada umur 10 tahun,
-         Produktivitas buah lebih besar, sekitar 140 butir/pohon/tahun,
-         Daging buah tebal, keras dan kandungan minyaknya tinggi,
-         Habitus tanaman sedang, serta
-         Lebih tahan terhadap gangguan hama dan penyakit.

B.     Nilai Gizi Nata de Coco
Menurut Anonymous d (1995 : 37) kandungan gula atau karbohidrat merupakan komponen terpenting dalam pembuatan Nata de coco. Air kelapa ternyata mengandung glukosa, fruktosa, sorbitol, s-inosi-tol dan sinositol yang menjadi sumber makanan bagi Acetobacter xylinum, membentuk gel pada permukaan air dari larutan yang mengandung gula. Dimana gula tersebut dikonversikan oleh bakteri menjadi massa yang sangat viscous (kental). Nata de Coco juga merupakan sellulose yang di bawah mikroskop nampak seperti massa fibril tidak beraturan yang menyerupai benang atau kapas.
Rony Palungkun (1993 : 99) disebutkan Thimann (1962) menjelaskan bahwa Nata de Coco terjadi karena proses pengambilan glukosa dari larutan gula atau gula dalam air kelapa oleh sel-sel Acetobacter xylinum. Kemudian glukosa tersebut digabungkan dengan asam lemak membentuk prekursor (penciri nata) pada membran sel. Prekursor ini selanjutnya dikeluarkan dalam bentuk ekskresi dan bersama enzim mempolimerisasi glukosa menjadi sellulosa di luar sel.
Nata de coco dapat digolongkan sebagai makanan berkalori rendah, sehingga cocok untuk menolong penderita diabetes, sebagai bahan makanan diet bagi orang-orang yang kegemukan. Nata de Coco berbentuk padat, putih, dan rasanya menyerupai kolang-kaling dengan kandungan lemak 0,2%, karbohidrat 36%, kalsium 12 mg, phosphor 2%, kalori 146 cal dan Fe 0,5 mg, untuk setiap 100 gr nata. Nata tersusun dari polisakarida, mungkin dextrose, dengan kadar gula 7-10% (Djoehana Setyomidjojo, 1991).

C.     Mikroorganisme Penghasil Nata
Sebenarnya nata merupakan bacterial cellulose atau sellulosa sintesis yaitu bakteri asam asetat yang sedikit memerlukan udara. Dalam medium air bakteri Acetobacter memerlukan udara, sedangkan Acetobacter xylinum membentuk suatu lapisan atau massa yang dapat mencapa ketebalan beberapa sentimeter, berstruktur kenyal, berwarna putih, dan tembus pandang. Sellulosa yang terbentuk sebagai hasil aktivitas bakteri berasal dari glukosa, dan glukosa sendiri dihasilkan oleh pecahan sukrosa. Sedangkan sellulosa merupakan produk samping bakteri berbentuk kapsul yang membungkus bakteri, yang pada akhirnya bakteri terperangkap dalam massa fibrilliar hasil aktivitasnya (Anonimous d, 1995: 27).
Mikroorganisme Penghasil nata termasuk bakteri asam asetat yang dapat membentuk asam asetat melalui proses oksidasi metal alkohol menjadi asam asetat dan mampu mengoksidasi komponen-komponen organik lain, termasuk asam asetat sendiri. Sifat bakteri ini gram negatif berbentuk batang, aerobic dan biasanya katalase negatif. Sifat-sifat spesifiknya adalah mampu mengoksidasi ethanol menjadi asam asetat, sehingga dapat dimanfaatkan untuk industri vinegar, juga dapat membentuk kapsula yang dapat dipergunakan untuk industri pangan yaitu pada Acetobacter xylinum (Kapti Rahayu dkk., 1989: 52).


D.    Prospek Nata de Coco
Nata de Coco merupakan makanan khas dari Philiphina, berwarna putih, transparan dan kenyal. Dikonsumsi sebagai makanan penyegar pencucimulut, dan biasanya disajikan dalam fruit cocktail, es krim, yogurt atau cukup dimakan dengan sirup.  Nata de Coco adalah sejenis agar-agar yang mula-mula dihasilkan di Laguna dan Quezon, dewasa ini beberapa negara telah berhasil membuat makanan ini termasuk Indonesia.
Produk Nata de Coco ini belum dieksport, akan tetapi pasaran domestik cukup baik. Saat ini Nata de Coco sudah banyak dijual di toko serba ada maupun di toko-toko lain di kota-kota besar, sehingga tidak menutup kemungkinan suatu saat Nata de Coco menjadi salah satu komoditi eksport mengikuti jejak produk olahan kelapa lainnya. Potensi eksport produk olahan Nata de Coco adalah Amerika Serikat dan Jepang yang mencapai harga $ 1,51 /kg FOB.

E.     Faktor-faktor Yang Harus Diperhatikan Dalam Pembuatan Produk Nata de Coco
Untuk membuat produk Nata de Coco yang baik dan berkualitas, perlu adanya usaha maksimal dalam pengolahannya. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam pembuatan Nata de Coco, antara lain:
1.      Penyediaan Wadah Fermentasi
Wadah untuk tempat media fermentasi diusahakan bebas dari segala macam mikroba kecuali mikroba inokulen. Oleh karena itu perlu pensterilan wadah melalui perebusan dapat pula dilakukan dengan memberikan uap panas. Menurut Anonymous (1996: 24) wadah fermentasi juga tidak boleh terbuat dari unsur-unsur logam karena mudah korosif/berkarat pada suasana asas yang dapat mengganggu aktivitas Acetobacter xylinum. Untuk itu lebih baik digunakan wadah plastik/bak. Pada umumnya digunakan bak plastik yang berwarna hitam sebab intensitas cahaya juga sangat mempengaruhi.
2.      Penyediaan Bahan Media Fermentasi
Bahan dasar media fermentasi juga diharuskan steril. Pensterilan bahan dilakukan melalui pemanasan (perebusan) dengan suhu 100°C selama 15 menit agar mikroba-mikroba yang dapat mencemari terbunuh (Anonymous b, 1996: 25).
3.      Suhu yang dibutuhkan
Suhu optimum yang diperlukan dalam pembuatan Nata de Coco adalah suhu kamar (28°C). suhu yang terlalu tinggi ataupun terlalu rendah akan menghasilkan nata yang kurang berkualitas atau aktivitas kerja Actobacter xylinum terhambat (Anonymous c, 1996: 11).
4.      Pengaturan pH
Derajat keasaman medium yang ideal dalam pembentukan Nata de Coco adalah 3-5 (dalam suasana asam) untuk menciptakan suasana yang kondusif bagi pertumbuhan Acetobacter xylinum. Hal ini disebabkan Acetobacter xylinum merupakan bakteri asam asetat yang hanya mampu tumbuh pada medium yang bersuasana asam (Aninymous c, 1996: 24).
5.      Penutup Wadah
Selama proses fermentasi, wadah harus tertutup rapat agar kotoran yang terbawa udara luar tidak dapat mencemari medium fermentasi. Dalam pembuatan Nata de Coco ini pada umumnya penutup wadah menggunakan kertas koran, sebab sekalipun wadah tertutup rapat namun sirkulasi udara tetap berjalan dengan lancar. Hal ini dikarenakan Acetobacter xylinum merupakan bakteri aerob yang dalam pertumbuhannya tetap memerlukan udara (oksigen).
6.      Kondisi Ruang Pemeraman
Dalam melakukan proses pemeraman, kondisi ruang tempat pemeraman harus pula diperhitungkan. Selama pembentukan Nata de Coco berlangsung, lingkungan sekitar harus tenang, jauh dari sumber panas, gerakan dan kegaduhan serta ancaman lain seperti binatang. Akibat adanya goncangan akan menenggelamkan lapisan Nata de Coco yang terbentuk dan akan memulai membentuk lapisan yang baru lagi, sedangkan kedua lapisan tersebut tidak dapat bersatu kembali (Anomyous c, 1996: 24). Selain itu pula diusahakan wadah jangan sampai berhubungan langsung dengan tanah, lebih baik jika disediakan rak-rak tempat pemeraman.

F.      Pengolahan Nata de Coco
Pengolahan Nata de Coco terdiri dari 2 tahap, yaitu pembuatan cairan bibit (starter) dan pembuatan Nata de Coco.
1.      Tahap Pembuatan Biakan Murni (Starter)
Bahan dan alat yang diperlukan:
        Yeast ekstrak agar  : 0,25 g
        K2HSO4                 : 0,50 / 0,39 g
        Mg SO4                 : 0,06 g
        Gula Pasir               : 10 g
        Agar-agar               : 2 g
        Air kelapa              : 100 ml
        Air bersih               : secukupnya
        Cuka                      : secukupnya
        Biakan murni Acetobacter (dapat dibeli di balai penelitian Kimia)
        Panci, Kompor, Dandang (autoklaf) dan botol.
Cara membuatnya:
        Campurkan semua bahan (kecuali cuka dan biakan murni) lalu encerkan dengan air bersih
        Panaskan adonan tersebut agar bahan cepat larut.
        Setelah semua bahan-bahan larut, adonan didinginkan kembali lalu tambahkan asam cuka hingga pHnya mencapai 4,5
        Adonan disterilkan dalam autoklaf pada suhu 121°C, tekanan 15 lbs (6,8 kg) selama 15 menit. Jika autoklaf tidak bersedia, sterilisasi dilakukan dengan menggunakan dandang.
        Dalam keadaan panas, masukkan adonan tersebut ke dalam botol atau tabung reaksi yang sebelumnya telah disterilkan. Kemudian didiamkan dalam posisi miring sampai beku. Adonan beku tersebut dinamakan media agar miring.
        Selanjutnya media agar miring diinokulasi dengan biakan murni Acetobacter xylinum atau Acetobacter aceti dan simpan bahan tersebut dalam ruangan yang aman selama 5 hari. Bakteri akan tumbuh di atas permukaan media agar. Supaya biakan murni dapat bertahan, maka setiap sebulan sekali dipindahkan ke dalam media Yeast Ekstrak agar yang baru.
2.      Tahap Pembuatan Nata de Coco
Dalam pembuatan Nata de Coco dibutuhkan alat dan bahan sebagai berikut:
        Air kelapa 1 liter
        Natrium benzoate (pengawet) 100 g/kg nata
        Gula pasir 675 g
        Asam cuka secukupnya
        Air dan esence secukupnya
        Saringan, kompor, panci, wadah plastik, bak plastik, pisau dan kantong plastik.
Cara pembuatannya:
        Siapkan air kelapa yang telah disaring dan bebas dari kotoran.
        Panaskan air kelapa tersebut, agar mikroba-mikroba yang dapat mencemari terbunuh.
        Sementara dipanaskan, tambahkan gula sebanyak7,5% dari jumlah air kelapa untuk 1 liter air kelapa dibutuhkan 75 g gula.
        Setelah itu larutan didinginkan dan ditempatkan dalam wadah yang sudah disterilkan lalu tambahkan asam cuka hingga keasaman larutan mencapai pH 4-5.
        Larutan diinokulasi dengan cairan bibit (starter) lalu diperam selama 2 minggu dalam ruangan yang tertutup. Selama 2 minggu dalam ruangan yang tertutup. Selama pemeraman, wadah harus tertutup rapat dengan plastik atau kertas koran.
        Setelah pemeraman, laurtan tersebut akan menggumpal membentuk nata de coco yang siap dipanen.
        Potong Nata de Coco tersebut menjadi bagian kecil berbentuk kubus, tiriskan, rendam dalam air bersih 2-3 hari untuk menghilangkan asamnya. Air rendamannya diganti tiap hari dengan air yang bersih. Kemudian dimasak atau didihkan selama 10 menit lalu ditiriskan lagi.
        Agar manis dan daya simpannya tahan lama, potongan-potongan nata de coco direndam dalam larutan gula dengan perbandingan 600 gr gula : 1,5 liter air, kemudian ditambahkan pengawet natrium benzoate sebanyak 100 mg untuk setiap kg nata de coco. Perendaman dilakukan selama 1 malam agar gula dan pengawet dapat meresap dengan baik.
        Agar aromanya memikat, larutan rendaman dapat ditambah essence secukupnya.
        Setelah perendaman, masukkan nata de coco ke botol-botol jar yang sudah disterilkan atau dikemas dalam plastik. Masukkan juga air rendaman tersebut dengan perbandingan 3 : 1.



P E N U T U P

Berdasarkan uraian tersebut di atas maka penulis dapat menyimpulkan beberapa kesimpulan antara lain:
1.      Kelapa adalah salah satu komoditi ekspor yang menjanjikan bagi negara Indonesia yang merupakan salah satu penghasil dan pengekspor kelapa besar di dunia.
2.      Nata de Coco adalah salah satu hasil kelapa yang banyak mengandung karbohidrat, protein, lemak dan minyak, mempunyai serat yang kasar dan kadar air yang cukup tinggi sangat baik untuk tubuh.



DAFTAR PUSTAKA


Achmad Husein, SKM. 2002. Pengolahan Limbah Cair Industri Nata de Coco, Jurusan Kesehatan Lingkungan Politeknik Yogyakarta.

Setyawidjaja Djoehana, 1993. Bertanam Kelapa. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Suhardiyono. 1995.  Tanaman Kelapa . Kanisius. Yogyakarta.

Rohman Ansori. 1992. Teknologi Fermentasi. Penerbit Arcarna. Yogyakarta.

Winarno. F.G. 1992. Kimia Pangan dan Gizi. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Klik aku di sini:




Jumat, 14 Oktober 2011

CHARLES DARWIN

CHARLES DARWIN 1809-1882

Lahirnya bersamaan benar dengan Abraham Lincoln, 12 Februari 1809 di Shrewsbury, Inggris. Charles Darwin penemu teori evolusi organik dalam arti seleksi alamiah ini pada umur enam belas tahun masuk Universitas Edinburg belajar kedokteran, tetapi baik kedokteran maupun anatomi dianggapnya ilmu yang bikin jemu. Tak lama kemudian dia pindah ke Cambridge belajar unsur administrasi perkantoran. Walau begitu, berburu dan naik kuda di Cambridge jauh lebih digemarinya ketimbang belajar ilmu itu. Dan walaupun begitu, dia toh masih bisa memikat perhatian salah satu mahagurunya yang mendorongnya supaya ikut dalam pelayaran penyelidikan di atas kapal H.M.S. Beagle sebagai seorang naturalis. Mula-mula ayahnya keberatan dengan penunjukan ini. Pikirnya, perjalanan macam itu hanyalah dalih saja buat Darwin yang enggan dengan pekerjaan serius. Untungnya, belakangan sang ayah bisa dibujuk dan merestui perjalanan itu yang akhirnya ternyata merupakan perjalanan yang paling berharga dalam sejarah ilmu pengetahuan Eropa.
Darwin mulai berangkat berlayar di atas kapal Beagle tahun 1831. Waktu itu umurnya baru dua puluh dua tahun. Dalam masa pelayaran lima tahun, kapal Beagle mengarungi dunia, menyelusuri pantai Amerika Selatan dalam kecepatan yang mengasyikkan, menyelidiki kepulauan Galapagos yang sunyi terpencil, mengambah pulau-pulau di Pacifik, di Samudera Indonesia dan di selatan Samudera Atlantik. Dalam perkelanaan itu, Darwin menyaksikan banyak keajaiban-keajaiban alam, mengunjungi suku-suku primitif, menemukan jumlah besar fosil-fosil, meneliti pelbagai macam tetumbuhan dan jenis binatang. Lebih jauh dari itu, dia membuat banyak catatan tentang apa saja yang lewat di depan matanya. Catatan-catatan ini merupakan bahan dasar bagi hampir seluruh karyanya di kemudian hari. Dari catatan-catatan inilah berasal ide-ide pokoknya, dan kejadian-kejadian serta pengalamannya jadi penunjang teori-teorinya.
Darwin kembali ke negerinya tahun 1836 dan dua puluh tahun sesudah itu dia menerbitkan sebarisan buku-buku yang mengangkatnya menjadi seorang biolog kenamaan di Inggris. Terhitung sejak tahun 1837 Darwin yakin betul bahwa binatang dan tetumbuhan tidaklah bersifat tetap, tetapi mengalami perubahan dalam perjalanan sejarah geologi. Pada saat itu dia belum sadar apa yang menjadi sebab-musabab terjadinya evolusi itu. Di tahun 1838 dia baca esai "Tentang prinsip-prinsip kependudukan" Thomas Malthus. Buku Malthus ini menyuguhkannya fakta-fakta yang mendorongnya lebih yakin adanya seleksi alamiah lewat kompetisi untuk mempertahankan kehidupan. Bahkan sesudah Darwin berhasil merumuskan prinsip-prinsip seleksi alamiahnya, dia tidak tergesa-gesa mencetak dan menerbitkannya. Dia sadar, teorinya akan mengundang tantangan-tantangan. Karena itu, dia memerlukan waktu lama dengan hati-hati menyusun bukti-bukti dan memasang kuda-kuda untuk mempertahankan hipotesanya jika ada serangan.
Garis besar teorinya ditulisnya tahun 1842 dan pada tahun 1844 dia mulai menyusun bukunya yang panjang lebar. Di bulan Juni 1858, tatkala Darwin masih sedang menambah-nambah dan menyempurnakan buku karya besarnya, dia menerima naskah dari Alfred Russel Wallace (seorang naturalis Inggris yang waktu itu berada di Timur) menggariskan teorinya sendiri tentang evolusi. Dalam tiap masalah dasar, teori Wallace bersamaan dengan teori Darwin! Wallace menyusun teorinya secara betul-betul berdiri di atas pikirannya sendiri dan mengirim naskah tulisannya kepada Darwin untuk minta pendapat dan komentar dari ilmuwan kenamaan itu sebelum masuk percetakan. Situasinya menjadi tidak enak karena mudah berkembang jadi pertarungan yang tidak dikehendaki untuk perebutan prioritas. Jalan keluarnya, baik naskah Wallace maupun garis-garis besar teori Darwin secara berbarengan dibahas oleh sebuah badan ilmiah pada bulan berikutnya.
Cukup mencengangkan, pengedepanan masalah ini tidak begitu diacuhkan orang. Buku Darwin The Origin of Species terbit pada tahun berikutnya, menimbulkan kegemparan. Memang kenyataannya mungkin tak pernah ada diterbitkan buku ilmu pengetahuan yang begitu tersebar luas dan begitu jadi bahan perbincangan yang begitu hangat, baik di lingkungan para ilmuwan maupun awam seperti terjadi pada buku On the Origin of Species by Means of Natural Selection, or The Preservation of Favoured Races in the Strugle for Life. Saling adu argumen tetap seru di tahun 1871 tatkala Darwin menerbitkan The Descent of Man, and Selection in Relation to Sex. Buku ini, mengedepankan gagasan bahwa manusia berasal dari makhluk sejenis monyet, makin menambah serunya perdebatan pendapat.
Darwin sendiri tidak ambil bagian dalam perdebatan di muka publik mengenai teori yang dilontarkannya. Bisa jadi lantaran kesehatan karena sehabis perkelanaannya yang begitu parrjang dengan kapal Beagle (besar kemungkinan akibat demam, akibat penyakit Chaga gigitan serangga di Amerika Latin). Dan bisa jadi karena dia merasa cukup punya pendukung gigih semacam Thomas H. Huxley seorang jago debat dan pembela teori Darwin, sebagian terbesar ilmuwan menyetujui dasar-dasar kebenaran teori Darwin tatkala yang bersangkutan niati tahun 1882.
Sebenarnya --jika mau bicara tulen atau tidak tulen-- bukanlah Darwin penemu pertama teori evolusi makhluk. Beberapa orang telah menyuarakannya sebelum dia, termasuk naturalis Perancis Jean Lamarek dan kakek Darwin sendiri, Erasmus Darwin.
Tetapi, hipotesa mereka tidak pernah diterima oleh dunia ilmu pengetahuan karena tak mampu memberi keyakinan bagaimana dan dengan cara apa evolusi terjadi. Sumbangan Darwin terbesar adalah kesanggupannya bukan saja menyuguhkan mekanisme dari seleksi alamiah yang mengakibatkan terjadinya evolusi alamiah, tetapi dia juga sanggup menyuguhkan banyak bukti-bukti untuk menunjang hipotesanya.
Layak dicatat, teori Darwin dirumuskan tanpa sandaran teori genetik apa pun atau bahkan dia tak tahu-menahu mengenai pengetahuan itu. Di masa Darwin, tak seorang pun faham ihwal khusus bagaimana suatu generasi berikutnya. Meskipun Gregor Mendel sedang merampungkan hukum-hukum keturunan pada tahun-tahun berbarengan dengan saat Darwin menulis dan menerbitkan bukunya yang membikin sejarah, hasil karya Mendel yang menunjang teori Darwin begitu sempurnanya, Mendel nyaris sepenuhnya tak diacuhkan orang sampai tahun 1900, saat teori Darwin sudah begitu mapan dan mantap. Jadi, pengertian modern kita perihal evolusi --yang merupakan gabungan antara ilmu genetik keturunan dengan hukum seleksi alamiah-- lebih lengkap ketimbang teori yang disodorkan Darwin.
Pengaruh Darwin terhadap pemikiran manusia dalam sekah. Dalam kaitan dengan ilmu pengetahuan murni, tentu saja, dia sudah melakukan tindak revolusioner semua aspek bidang biologi. Seleksi alamiah betul-betul punya prinsip yang teramat luas serta mendasar, dan pelbagai percobaan sudah dilakukan penerapannya di pelbagai bidang-seperti antropologi, sosiologi, ilmu politik dan ekonomi.
Bahkan barangkali pengaruh Darwin lebih penting terhadap pemikiran agama ketimbang terhadap segi ilmu pengetahuan atau sosiologi. Pada masa Darwin dan bertahun-tahun sesudahnya, banyak penganut setia Nasrani percaya bahwa menerima teori Darwin berarti menurunkan derajat kepercayaan terhadap agama. Kekhawatiran mereka ini barangkali ada dasarnya biarpun jelas banyak sebab faktor lain yang jadi lantaran lunturnya kepercayaan beragama. (Darwin sendiri menjadi seorang sekuler).
Bahkan atas dasar sekuler, teori Darwin mengakibatkan perubahan besar pada cara manusia dalam hal mereka memikirkan ihwal dunia mereka (bangsa manusia itu tampaknya) secara keseluruhan tidak lagi menduduki posisi sentral dalam skema alamiah alam makhluk sebagaimana tadinya mereka akukan. Kini kita harus memandang diri kita sebagai salah satu bagian saja dari sekian banyak makhluk dan kita mengakui adanya kemungkinan bahwa sekali tempo akan tergeser. Akibat dari hasil penyelidikan Darwin, pandangan Heraclitus yang berkata, "Tak ada yang permanen kecuali perubahan" menjadi diterima secara lebih luas. Sukses teori evolusi sebagai penjelasan umum mengenai asal-usul manusia telah lebih mengokohkan kepercayaan terhadap kemampuan ilmu pengetahuan menjawab segala pertanyaan dunia fisik (walaupun tidak semua persoalan manusia dan kemanusiaan). Istilah Darwin, "Yang kuat mengalahkan yang lemah" dan "Pergulatan untuk hidup" telah masuk menjadi bagian kamus kita.
Memang teori Darwin akan terjelaskan juga walau misalnya Darwin tak pernah hidup di dunia. Apalagi diukur dari apa yang sudah dihasilkan Wallace, hal ini amat mengandung kebenaran, lebih dari ihwal siapa pun yang tertera di dalam daftar buku ini. Namun, adalah tulisan-tulisan Darwin yang telah merevolusionerkan biologi dan antropolgi dan dialah yang telah mengubah pandangan kita tentang kedudukan manusia di dunia.

 ___________________________________________________
Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah
Michael H. Hart, 1978
Terjemahan H. Mahbub Djunaidi, 1982
PT. Dunia Pustaka Jaya
Jln. Kramat II, No. 31A
Jakarta Pusat

Klik aku di sini: